Sabtu, 04 Februari 2017

Parlok Lahir Dari Rahim MoU Helsinki, Bukan Untuk Mempecah-Belah Bangsa

    2/04/2017   No comments

MOKI, Sabang-Politik tak sehat ternyata sangat kejam, sehingga mampu membuat pecah-belah anak bangsa. Padahal, Partai Lokal (Parlok) lahir dari  Memorandum of Understanding (MoU) Hilsinki, atas penandatanganan perjanjian perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan Pemerintah Indonesia (RI), pada tanggal 15 Agustus 2005 silam.

Demikian disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Dedi Safrizal, saat menyampaikan orasi pada kampanye akbar H Zulkifli H Asdam-Zuwanda (Zulwanda) calon ber nomor urut 2 Walikota Sabang Pilkada 2017-2022 di lapangan Sabang Meuroke Senin (30/01/17).

Menurut anggota DPRA  yang menduduki kursi dewan melalui Partai Nasional Aceh (PNA) itu, dirinya kecewa terhadap tata cara memainkan politik yang dinilai sangat tidak dewasa. Akibatnya, kini telah terjadi pemutusan hubungan sesama pejuang atas lahirnya Parlok di Aceh. 

“Perlu diketahui bersama bahwa, Partai lokal lahir dari rahim MoU Hilsinki, bukan lahir dari kelompok yang kini menyatakan diri sebagai pejuang Parlok itu sendiri”.

Berapa banyak orang Aceh yang menjadi korban hingga lahir Parlok di Aceh. Dan berapa pula yang yang terlibat dalam penandatangan MoU itu, artinya bisa dihitung jari. Tetapi sekarang semua mengaku dirinya pejuang yang berakibat mempecah-belahkan anak bangsa, ujar Dedi.

Dikatakannya juga bahwa pendukung sejumlah Parlok yang sudah ada di Aceh, mereka tidak tau diri, dan dari mana asal-muasal lahirnya Parlok sehingga hari ini rame-rame mendirikan Partai. Untuk itu, supaya yang sekarang ini menganggap dirinya pejuang, sebaiknya mundur saja, jangan hisap darah korban pejuang yang sebenarnya.

Saya mengingatkan lanjut Dedi Safrizal, Parlok itu bukan tempat cari makan bagi kelompok dan koleganya, tetapi Parlok itu dicetus untuk menjaga martabat dan harga diri bangsa Aceh. Namun, yang sangat disayangkan didalam beberapa Parlok sudah diduduki orang-orang, yang tidak ada hubungannya dengan perjuangan Aceh.

Parlok telah disusupi orang-orang untuk tempat mencari makan, yang diduduki sejumlah orang dimana saat Aceh bergejolak mereka musuh terhadap GAM. Kini mereka telah menjual marwah bangsa Aceh, menghisap darah korban dari perjuangan dan berkoak-koak seakan-akan mantan kombatan GAM, ujarnya pula.

“Hai bangsa Aceh, Parlok lahir dari rahim MoU Hilsinki, tolong jangan kalian jual darah bangsa Aceh yang telah menjadi korban dari perjuangannya. Kalian yang sekarang menduduki sejumlah Parlok, dan dulunya kalian memusuhi perjuangan GAM, kenapa hari ini kalian berteriak-teriak perjuangan. Sebaiknya kalian mundur dari Parlok, jangan pecah-belahkan bangsa Aceh” tegas Dedi dengan penuh semangat. (Jalaluddin. Zky)

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.