Minggu, 23 April 2017

Music Keyboard Haram Di Gampong Simpang Wie

    4/23/2017   No comments

MOKI, Langsa-Aceh. Ceritanya begini, Warga Gampong Simpang Wie, Kecamatan Langsa Timur, mengadakan acara pesta anaknya pada tanggal 17 April 2017 lalu.

Anehnya sebelum pesta pernikahan di laksanakan, terlebih dahulu pihak keluarga mengadakan rapat panitia untuk gotong royong terlaksananya kenduri (pesta) di rumah pengantin wanita anak dari pasangan rumah tangga M Nur dan Halimah.

"Perbentukan panitia pada malamnya itu, dihadiri Geuchik (kepala desa) Imam dan para pemuda dan tokoh masyarakat setempat, dalam rapat panitia tidak dibahas pelarangan Music Keyboard di acara pesta, "Kata Halimah

Menurut Halimah ibu dari pengantin wanita yang mengadakan pesta pernikahan tersebut, seorang Imam Desa Simpang Wie, menanyakan kepadanya apakah acara pesta anaknya sediakan music keyboard? itu saja pertanyaan Imam Desa. Jawab Halimah dari pemilik rumah.

Halimah selaku pemilik rumah, jika keyboard benar tidak diperbolehkan di acara pesta, seharusnya teebih dahulu dilarang dan kami keluarga menerimanya dengan kebaikan, apabila dilarang, seharusnya jangan mempermalukan keluarga kami di saat pesta berlangsung.

"Kepala Desa dinilai tidak menghormati warga desanya, apa bila pemilik rumah menyediakan music keyboard, seharusnya kepala desa lebih bijaksana dalam memimpin mengatakan jauh hari sebelumnya, bukan sengaja memalukan kami, ke datangan rombongan pengantin pria, oknum geuchik selaku pemimpin desa tidak menghadiri penyambutan tamu," Ujarnya.

Tambah halimah, ketegasan itu kami tetap menghargai untuk kebaikan semuanya, jika sebelumnya memang dilarang oleh Geuchik dan Imam Des tidak diperbolehkan music keyboard, karena dinilai haram dalam agama dan haram untuk acara pesta di Gampong Simpang Wie. "Kami sama sekali tidak menyediakan keyboard tersebut," tutup Halimah.

Sementara salah seorang Wakil Tuha Peut Simpang Wie, Usman yang dihimpun media ini, pemberitahuan tersebut sudah dipertanyakan oleh Imam Desa sebelum pemilik rumah melaksanakan acara pesta, ada diberitahukan apa bila music keyboard disediakan maka perangkat pemerintahan tidak menghadiri pesta tersebut, karena pemberitahuan itu telah dijelaskan oleh imam desa" Tutur Usman.

Selanjutnya pihak keluarga pemilik rumah yang mengadakan pesta, dalam hal menyikapi persoalan tersebut, Oknum Geuchik yang baru menjabat kepala desa, tidak seharusnya bersikap untuk memalukan pemilik rumah, apa lagi warga yang mengadakan pesta tersebut adalah rakyat desanya sendiri.

Pihak pemilik rumah menilai aneh sikap yang disandang oknum geuchik (kepala desa) terpilih itu, seharusnya janganlah mempermalukan warga desanya, tepat kedatangan rombongan pengantin lelaki (linto baro), pukul 12.00 WIB, di duga Geuchik dan perangkat desa lainnya tidak melakukan penyambutan tamu, apakah benar lantaran music keyboard di haramkan yang disediakan untuk menghibur para tamu yang menghadiri pesta.

Namun dibalik itu, hargailah hak azazi sesama manusia, keyboard tersebut bukan setiap harinya, bukan seminggu sekali, bukan sebulan sekali dan bukan setahun sekali dilakukan di simpang wie, hanya kebetulan diadakan di hari pesta warga simpang wie sebagai hiburan saja.

"Contohilah ummad Islam di ibu Kota Jakarta berdirinya Masjid Raya Istiqlal yang bersebelahan dengan Gereja Katedral penganut katholik, Ummad Islam disana saling menghormati manusia lainnya dan tidak mengatakan bahwa mereka paling bersih dan dijamin 100 % masuk ke dalam SURGA, begitu juga contoh yang ada di Negara Palestina berdirinya Masjid Al-Aqsha satu - satu Masjid tertua di Dunia yang berdiri megah berdampingan dengan Rumah ibadah Yahudi, namun disana kita lihat sesama ummad manusia saling menghormati, bahkan dari mereka tidak saling mengklaimkan dirinya bersih dari perbuatan haram dan suci dari perbuatan dosa," Pungkasnya.(red).

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.