Selasa, 29 Agustus 2017

Menguak Misteri Sejarah Kabupaten Pati

    8/29/2017   No comments

Oleh : Bambang Nurhayadi

Banyak yang belum tahu mengenai sejarah atau kisah kuluk kanigoro dan Keris Rambut Pinutung . Sehingga pada waktu penyelenggaraan kontes Tinju ayam PPAKN ( PERKUMPULAN PENGHOBY AYAM KONTES NUSANTARA ) yang diselenggarakan pada tanggal 20 Agustus 2017 tempat di gedung PGRI PATI . Memperbutkan piala ndandim 0718 Pati . Dengan tema memperingati hari kemerdekaan dan hari jadi Pati .




Pada kitab Babat Pati tertulis ada dua pusaka yaitu keris rambut pinutung dan kuluk kanigara. Itu merupakan lambang kekuasan dan kekuatan serta simbol kesatuan dan persatuan. Kabarnya barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan memerintah di pulau Jawa. Dapat kita lihat bahwa yang memiliki misalnya Raden Sukmayana Penggede Majasemi andalan kadipaten Carangsoka.

BAMBANG NURHAYADI sebagai pembina PPAKN Pati , membuat ide untuk disetiap pertandingan kontes tinju ayam , memberikan Nama Kanigoro dan Pinutung . Ini mengingatkan salah satu simbol kejayaan Carangsoko dimasa lampau . Sehingga nantinya , akan diketahui baik dijawa maupun didaerah lain bahkan manca negara melaui Kontes tinju ayam Nasional ( Mohon ijin kepada bpk Riyoso Sos selaku kepala disperindak )

Disayangkan sekali , simbol atau lambang kejayaan kabupaten Pati , menurut  Ahmadi, kisaran tahun 2010 / 2011 ( seingat saya Red )  .

"Keris pusaka Rambut pinutung dan Kuluk Kanigoro yang sangat  berharga ini , sebetulnya keberadaannya tidak ada di Musium pati , atau tidak berada di Pati . Sebagian besar benda bersejarah itu sudah dimiliki kolektor atau museum yang ada di luar Pati ".

Kami selaku masyarakat Kab Pati , berharap Bapak Haryanto Raci Pati , selaku Bupati Pati dengan telik sandinya berupaya mengembalikan kedua benda tersebut kepada masyarakat Pati . Mengingat dan menimbang , satu : Tercantumnya kedua benda sejarah tersebut di Simbol Pemkab Pati .
Kedua : Sebagai pengingat kejayaan KABUPATEN PATI dimasa lampau . Seperti yang pernah saya baca di Serat Jawi :




Setelah runtuhnya kerajaan Singosari, Pulau Jawa mengalami kekosongan pemerintahan. Kemudian muncul penguasa baru dari daerah sekitar Gunung Muria yang kemudian mengangkat dirinya menjadi adipati.

Sebenarnya ada dua kadipaten saat itu, yaitu Kadipaten Paranggarudo dan Kadipaten Carangsoko. Kadipaten Paranggarudo dipimpin oleh Yudhapati dan Kadipaten Carangsoka dipimpin oleh Puspa Andungjaya.

Yudhapati mempunyai wilayah kekuasaan dari selatan sungai Juwana hingga Gamping utara berbatasan dengan kabupaten Grobogan. Sedangkan Puspa Andungjaya mempunyai wilayah kekuasaan dari utara sungai Juwana hingga Pantai Utara Jawa Tengah bagian timur .

Kedua kadipaten ini hidup dengan damai hingga kedua adipatinya memutuskan untuk berbesanan. Kedua adipati ini bersepakat untuk mengawinkan anak mereka yang bernama Raden Jasari yang merupakan anak dari Adipati Yudhapati dengan Rara Rayungwulan anak dari adipati Adipati Puspa Andungjaya. Pernikahan kemudian akan dilakukan di Kadipaten Carangsongka. Pada saat pesta perkawinan akan dimulai, tiba-tiba Rara Rayungwulan melarikan diri dengan dalang yang bernama dalang Sapanyana. Karena pernikahan yang gagal, Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, sehingga menyatakan permusuhan terhadap Adipati Puspa Adungjaya sehingga peperangan tak dapat terhindarkan lagi. Raden Sukmayana memimpin prajurit dari Kadipaten Carangsongka, tapi kemudian tewas dalam pertempuran. Tugas ini kemudian diteruskan oleh Raden Kembangjaya yang merupakan adik dari Raden Sukmayana. Peperangan ini kemudian dimenangkan oleh Raden Kembangjaya dengan tewasnya Adipati Paranggaruda dan anaknya. Raden Kembangjaya kemudian dinikahkan dengan Rara Rayungwulan dan diangkat menjadi Adipati Carangsongka, dan dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dan berganti nama menjadi Singasari.




Untuk mengatur wilayahnya yang semakin luas, Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya ke desa Kemiri dan mengganti nama Kadioaten tersebut menjadi Kadipaten Pasantenan dan bergelar Adipati Jayakusuma. setelah Jayakusuma meninggal, pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Raden Tambra dan bergelar Adipati Tambranegara. Untuk dapat memajukan wilayahnya, Adipati Tambra kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke desa Kaborongan dan mengganti nama Kadipaten menjadi  kadipaten pati.                                                                                                                          
ADIPATI PRAGOLA YANG PERTAMA                                                                                           Nama aslinya adalah Wasis Jayakusuma putra Ki Ageng Panjawi, saudara seperjuangan Ki Ageng Pamanahan. Kakak perempuannya yang bernama Waskitajawi menikah dengan Sutawijaya putra Ki Ageng Pamanahan, dan melahirkan Mas Jolang.

Sutawijaya kemudian mendirikan Kesultanan Mataram tahun 1587, sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati. Sementara itu, Wasis Jayakusuma menggantikan ayahnya sebagai bupati Pati bergelar Pragola. Secara suka rela ia tunduk kepada Mataram karena kakaknya dijadikan permaisuri utama bergelar Ratu Mas, sedangkan Mas Jolang sebagai putra mahkota.

Pada tahun 1890 Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun. Pemimpin kota itu yang bernama Rangga Jemuna (putra bungsu Sultan Trenggana Demak) melarikan diri ke Surabaya. Putrinya yang bernama Retno Dumilah diambil Panembahan Senopati sebagai permaisuri kedua.




Peristiwa ini membuat Pragola sakit hati karena khawatir kedudukan kakaknya (Ratu Mas) terancam. Ia menganggap perjuangan Panembahan Senopati sudah tidak murni lagi. Pemberontakan Pati pun meletus tahun 1600. Daerah-daerah di sebelah utara Pegunungan Kendeng dapat ditaklukan Pragola.

Panembahan Senopati mengirim Mas Jolang untuk menghadapi pemberontakan Pragola. Kedua pasukan bertemu dekat Prambanan. Pragola dengan mudah melukai keponakannya itu sampai pingsan.

Panembahan Senopati berangkat untuk menumpas Pragola. Menurut Babad Tanah Jawi, Ratu Mas sudah merelakan kematian adiknya. Pertempuran terjadi di Prambanan. Pasukan Pragola kalah dan mundur ke Pati. Panembahan Senopati mengejar dan menghancurkan kota itu. Akhirnya, Adipati Pragola pun hilang tidak diketahui nasibnya.
Adipati Pragola yang Kedua

Pragola yang kedua adalah putra Pangeran Puger putra Panembahan Senopati. Ketika Mas Jolang naik takhta menggantikan Panembahan Senopati tahun 1601, Pangeran Puger iri karena merasa usianya lebih tua.

Pangeran Puger yang saat itu menjabat sebagai adipati Demak akhirnya memberontak tahun 1602 tidak mau mengakui kedaulatan adiknya. Pemberontakan ini berakhir tahun 1605 setelah Pangeran Puger ditangkap dan dibuang ke Kudus.

Putra Pangeran Puger diangkat sebagai adipati Pati bergelar Pragola. Ia juga memberontak terhadap Mataram saat dipimpin sepupunya, yaitu Sultan Agung putra Mas Jolang tahun 1627. Pemberontakan ini dipicu oleh hasutan Tumenggung Endranata bupati Demak.




Sultan Agung memimpin langsung penumpasan pemberontakan Pati. Menurut naskah babad, Pragola memakai baju zirah (dalam bahasa Jawa disebut kere waja) peninggalan seorang Portugis bernama Baron Sekeber sehingga tidak mempan senjata apa pun.

Konon dikisahkan, Baron Sekeber adalah juru taman istana Pati. Ia terbukti berselingkuh dengan selir kesayangan Pragola sampai memiliki dua orang anak kembar. Pragola pun membunuh Baron Sekeber dan kedua anaknya, tapi mengampuni selirnya tersebut.

Arwah kedua anak Baron Sekeber datang untuk menuntut balas ketika pasukan Mataram menyerang Pati. Yang satu menyusup pada baju zirah milik Pragola, yang satunya menyusup pada tombak pusaka Kyai Baru Klinting milik Sultan Agung.

Abdi pemegang payung Sultan Agung yang bernama Ki Nayadarma minta izin menghadapi amukan Pragola. Sultan Agung pun meminjamkan tombak Baru Klinting kepadanya. Pertempuran akhirnya berakhir dengan kematian Pragola di tangan Nayadarma.

Sepeninggal Pragola, pasukan Mataram bergerak merampas harta kekayaan Pati. Selir Pragola (yang pernah berselingkuh dengan Baron Sekeber) diambil Tumenggung Wiraguna, seorang pegawai senior Mataram. Selir ini kemudian terkenal dengan nama Rara Mendut, yang kisah cintanya terhadap Pranacitra (pengawal Wiraguna) menjadi legenda di tanah Jawa.    

GONJANG-GANJING
WASIS JOYOKUSUMO II
Hubungan baik terjalin kembali setelah terdahulunya Pragola I mengadakan pemberontakan terhadap Mataram. Perkawinan adalah sangat efektif digunakan untuk menyatukan dua wilayah yang bertikai, Joyo Kusumo menikah sama adik Sultan Agung. Kerukunan ini terjalin untuk memperluas kekuasaan Mataram di tanah Jawa.




Wasis Joyo Kusumo II mau melamar Putri pengusaha kaya dari Jepara. Ia melamar dengan mengirimkan dua ekor gajah ditambah dengan tiga sampai empat orang terkemuka yang membawa emas,perak, bahkan pakaian yang berharga dan sirih. Akan tetapi peminangan ini ditolak karena gadis tersebut telah dipinang oleh orang lain. Sehingga dibawa pulang seperangkat lamaran kembali ke Pati.

Joyo Kusumo marah, ia mengirimkan beberapa prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa pasukan bersenjata dan seseorang pembesar Jepara juga membantu membawa beberapa prajurit. Mereka bergabung mengantisipasi bahwa Pati akan menguasai daerah-daerah lain sekitarnya. Kia Demang juga mengirim istrinya menghadap ke Mataram guna melaporkan bahwa telah terjadi penyerbuan di wilayah Jepara untuk memperebutkan seorang gadis cantik asal Jepara selain itu juga akan menundukan wilayah Jepara.

Laporan ini membuat Raja Mataram hati-hati sehingga ia mengirimkan telik sandi ke Pati, untuk mengetahui sepak terjang Adipati Joyo Kusumo, laporan yang diterima sesuai dengan apa yang pernah dilaporkan istri Kyai Demang bahwa Pati sedang menyusun kekuatan. Raja Mataram segera mengirimkan pasukan ke Pati. Pasukan ini sebenarnya akan dipersiapkan untuk melawan Surbaya. konsentrasi Mataram sedang disibukan dengan penumpasan Surabaya.. Tapi dialihkan menuju ke wilayah Pati guna mencegah terjadinya pemberontakan di wilayah tersebut.

Perang saudara ini bisa dicegah dengan mengadakan perkawinan politik antara anak Sultan Agung dengan anak Joyo Kusumo, dan ini sangat efektif untuk meredam pemberontakan di Wilayah Pati. Pasukan Mataram kemudian dialihkan kembali ke penyerangan Surabaya Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya pemberontakan wilayah, Pati salah satu kekuatan yang menjadi perhitungan politik Sultan Agung, sehingga harus dipertahankan supaya tetap mendukung Mataram.




Adi pati Joyo Kusumo gagah berani tampil sebagai pemimpin wilayah Pantai, mereka mengumpulkan Penguasa Utara di Juana. Bahkan ketika pengirimin pasukan untuk menyerang Surabaya ia menjadi panglimanya menggantikan Adipati Sujanapura yang gugur dalam pertempuran. Adipati Joyo Kusumo juga ikut dalam menumpas Pemberontakan Tuban. Ia bersama Lasem bahu membahu untuk menundukan kekuatan dan strategi perang Tuban dengan besar-besaran,. sedangkan palimanya Adipati Matralaya lebih senang menunggu musuh daripada menyerang dahuluan. Joyo Kusumo juga pernah menjadi panglima yang gagah berani. Ia bahu membahu dengan pasukan Tumenggung Alap-alap

Setelah penyerangan Surabaya selesai, penarikan pasukan kembali ke wilayahnya masing-masing. Temenggung Endranata mulai kasak-kusuk di dalam Keraton Mataram, ia menterjemahkan mimpi Sultan Agung, tentang kedatangan seorang berbaju putih yang mengharuskan menyingkirkan empat orang terkemuka yang dapat menjadi duri dalam daging di Mataram. Temenggung Endratara membisikan siapa saja yang menjadi penghalang Sultan Agung.

Adipati endranata melemparkan isyu bahwa Pati akan mengadakan penyerangan terhadap Mataram.. Pargola memperluas wilayahnya dengan mengangkat enam Bupati MangunJaya, Kanduruwan,Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling dan Sindurejo. Mereka ia bersumpah sampai titik darah penghabisan,

Raja Sultan Agung memanggil beberapa adipati menghadap ke Mataram, raja menanyakan kenapa Adipati Pragola tidak menghadap. Temenggung Endranata menerangkan bahwa Pati tengah menyusun kekuatan dengan penguasa-penguasa pantai utara, kecuali Demak yang masih setia kepada Mataram, hal ini membuat murka Sultan Agung.




Raja mengatur pasukan sebelah kanan yang dipimpin Adipati Matralaya membawai pasukan Mancanegara, pasukan ini bermukim di Pekuwon Juwana. bagian timur sebelah kiri Pangeran Sumedang yang memimpin bagian barat. Orang-orang Madura memimpin bagian tengah, dibelakang itu rakyat dari Kedu, Bagelan dan Pemijen, pasukannya mendirikan benteng pertahanan di kaki Gunung Kendeng, di daerah Cengkal Sewu sebelah selatan Pati. Terakhir keluarga Raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit semua kapendak yang ada diantara mereka harus mengikuti raja.

Pasukan mengepung melewati Pajang dan Taji sehingga banyak penduduk berlarian menuju ke Kota Pati. Kadipaten Pati dikepung prajurit dari segala penjuru, pasukan telik sandi Pati melaporkan bahwa ada gerakan dari pasukan menuju Pati yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung. Adipati Pati mengumpulkan rakyatnya yang masih setia untuk berkumpul menyelenggarakan pesta. Untuk pengikutnya yang setia sebab esok akan mengadakan pertempuran habis-habisan.

Pasukan Pati mengenakan pakaian yang sama hitam-hitam, sedangkan rakyat berpakaian seadanya. Mereka berkumpul menunggu Adipati Pragola yang sedang siap-siap, ia mandi, mengenakan baju yang sangat bagus, melengkapi diri dengan pakaian-pakain pusaka (Kere Wojo), dan jimat pusaka.

Adipati Pati bersama pasukannya menuju sector kanan, Serangan Pati ditujukan pada sayap kanan pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Matralaya, dalam pasukan itu juga ada Adipati Endranata berada. Pihak Mataram mengalami kekalahan besar, dihajar dengan pasukanPati dengan kekuatan penuh, sehingga pasukan Mataram ditarik mundur sampai daerah perbatasan. Sisa-sisa Pasukan Mataram kocar-kacir menyelamatkan diri, misalnya Raja Niti, Mangun Oneng dan Kertajaya. Mataram lari ke Kunduruan, Pasukan Mataram meminta pertimbangan dengan Eyang Kunduruan agar membantu pasukan Mataram, namun Eyang tidak mau sehingga terjadi penyerbuan di kenduruan. Eyang Kunduruan telah siap dengan pasukan penuh ditambah Pasukan dari Adipati Pati. Mereka bahu-membahu memukul Pasukan Mataram, Pasukan Eyang Kunduruan mengusir Pasukan Mataram sampai di luar desa.




Melihat kemenangan di tangan Adipati Pati Pragola, dalam pertempuran ini Temenggung Endranata melarikan diri dan membelot ke Pasukan Pati. Juga pusat dan sayap kiri pasukan Mataram menderita kerugian besar, Pasukan Sawung Galing berhasil memporakporandakan pasukan inti Mataram, sehingga hanya keluarga Raja dengan 2000 pengawal yang masih bertahan.

Adipati Pragola mengobrak-abrik strategi Kalajengking, dia menyerang Pasukan tengah menuju ke arah Susuhunan. Pasukan Temenggung Singanaru dihajar habis-habisan sehingga seluruh anak buahnya tewas, Temenggung Singanaru berlari menyelamatkan diri, ia kehilangan seluruh anak buahnya, sehingga menimbulkan keadaan darurat.

Pasukan Adipati Pati terlena, setelah memenangkan pertarungan, sehingga dia menarik pasukan Pati kembali ke markasnya, pengejaran terhadap Pasukan Mataram hanya sampai di tapal batas saja. Mereka tidak mengejar lagi karena menduga sisa Pasukan Mataram kembali ke Yogyakarta.

Raja Mataram memerintahkan mundur semua pasukan, untuk menyusun kembali Pasukan Mataram yang tersisa. Banyak Pasukan Mataram yang kocar-kacir kehilangan induk semangnya. Sultan Mataram memerintahkan Pasukan Mataram yang ada di tiga sector, sayap kanan, kiri dan tengah untuk tidak melakukan serangan, ditahan dulu pasukannya menunggu komando berikutnya.




Raja Mataram di dalam hutan, mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mengkaji ulang strategi perang, dan untuk menemukan stategi baru untuk menundukan Pati. kemudian memukul gong pusaka Kiai Bicak, tetapi tidak berbunyi. Ia kehilangan semangat dan berdoa kepada Allah, setelah itu gong berbunyi lagi dengan suara nyaring, ini menggobarkan semangat para prajurit Mataram, yang tadinya sudah mundur. Sekarang mereka maju lagi untuk bertempur.

Sisa Pasukan Mataram yang bertahan ditapal batas, dan pasukan yang masih di hutan Jepara, Purwodadi, Kudus bergabung kembali dengan Pasukan Sultan Mataram, setelah telik sandi menginstruksikan untuk segera merapat dan bertemu dengan pasukan Sultan Mataram, sambil menunggu bantuan dari Kerajaan Mataram yang akan menyerbu Surabaya, untuk dialihkan dahulu membantu Pasukan Mataram yang mau menyerang Pati.

Meskipun demikian, Adipati Pragola masih yakin akan kemenangannya. Ia mengadakan pembunuhan besar-besaran pada pihak Mataram. Raja Mataram segera mengirim pasukan tambahan dan mengarahkan pengawal dan keluarganya, yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan keluarganya. Mereka merapat bergabung dengan sisa pasukan Mataram dengan menggunakan strategi kombinasi, mengecoh pertahanan Pati. Pasukan Mataram bergerak melawan Adipati Kunduruan di daerah Selatan, Prawirataruna, Temenggung Toh Pati dan Tumenggung Mangunjaya bertahan di arah timur, Tumenggung Sindurejo dan Raja Menggala bertahan di sector Barat melawan gempuran Pasukan Tumenggung Alap-alap. sedangkan Pasukan Tumenggung Sawunggaling kocar-kacir melawan pasukan inti, ia tertangkap Pasukan Mataram dan di ekskusi ditempat.

Meskipun demikian, Adipati Pragola dengan semangat menyala-nyala maju ke depan, tetapi Raja Mataram menyerahkan tombak Kiyai Baru kepada Lurah Kapedak, Naya Derma. Tepat ketika raja sekali lagi memukul gongnya Naya Derma menusuk Pragola sehingga mengakibatkan luka ringan sebelah kiri. Pargola jatuh dari kudanya kemudian ia bangkit, dan memacu kudanya keluar dari kepungan Pasukan Mataram. Dia berlari untuk merawat lukanya, ditengah jalan kudanya berhenti dan ia meninggal dunia di Sendang Sani. Mendengar Adipati Pragola wafat. Temenggung Endranata dan pasukannya membelot, menganggap ini suatu alasan untuk kembali ke Pasukan Mataram. Semua pasukan Pati dimusnahkan, juga mereka yang ditangkap hidup lebih suka memilih mati.




Raja memerintahkan agar jenazah Pragola ditegakan dan jimat-jimatnya diambil. Melihat percikan darah pada Kiai Baru, raja mengerti bahwa adiknya terbunuh dengan senjata itu.

Sementera itu Tumenggung Mangunjaya melarikan diri ke dalam istana dan menyampaikan berita kekalahan kepada para wanita disana juga kepada empat menteri jaga : Sura Prameya, Rangga Jaladra, Sura Antaka dan Pengalasan. Mereka bertempur terus sampai mati dengan 200 prajurit yang masih ada. Ini dilakukan dialun-alun, hanya Mangunjaya yang membawa berita kekalahan kepada para wanita, mereka cepat berlari meninggalkan Kadipaten Pati menuju ke Gunung Prawata. Melalui pintu belakang bersama putra mahkota yang masih muda.

Temenggung Alap-alap dengan beberapa pasukannya mengobrak-abrik Pasukan Pati, mereka merampok istana dan menguras habis istana bersama dengan pengikut-pengikutnya, kekayaannya dirampas dan rumahnya dibakar diratakan dengan tanah. ia memerintahkan untuk membawa para wanita ke Mataram.

Sultan Mataram bertemu dengan adiknya yang juga istri Pragola, ia bertanya kenapa Pati harus memberontak terhadap Mataram, janda Pragola menceritakan bahwa Sultan Mataram dan Pragola Pati diadu domba oleh Adipati Endranata. Raja Mataram marah besar, sehingga ia memerintahkan Martalulut dan Singanegara untuk membunuh Adipati Endranata dan dipertontonkan ususnya di Pasar Gede.

RORO MENDUT DAN PRANA CITRO
Pasukan Mataram berhasil membumi hanguskan Kadipaten Pati. Tembok-tembok sebagai benteng runtuh di hancurkan Mataram. Semua harta kekayaan Kadipaten Pati di rampas di bawa pulang ke Mataram.Termasuk boyongan gadis-gadis cantik dari pesisir pantai utara jawa.




Temenggung Wiroguno merupakan salah satu temenggung yang ikut dalm penyerangan Kadipaten Pati, ia memperoleh hadiah putri boyongan dari Pati, yakni Roro Mendut yang masih belia dan jelita. Tetapi Roro Mendut tidak sudi diperistri Wiroguno yang sudah renta itu.

Roro Mendut adalah seorang gadis cantik sehingga banyak pemuda-pemuda naksir kepadanya. Roro Mendut berpacaran dengan pemuda Pati Bernama Bagus Kemuda. Ada juga seorang pemuda asal Madura yang tinggal di Pati bernama Kuda Panoleh, yang mencoba mengganggunya. Namun rasa cintanya kandas karena ia menjadi boyongan Temenggung Wiroguno akibat Kadipaten Pati kalah perang.

Temenggung Wiroguno mencintai Roro Mendut, sehingga ia dibuatkan kaputren untuk ditinggali dengan mbok Mbannya. Roro Mendut selalu bermuram durja karena harus berpisah dengan kekasihnya yang harus mati ditangan orang-orang Mataram. Kesedihannya makin memuncak tatkala ia harus dibawa oleh Temenggung Wiraguno, orang Mataram yang telah merebut kebahagiaanya.

Roro Mendut tidak kuat menahan perasaannya, ia berencana untuk melarikan diri dari Kadipaten, untuk lepas dari cengkraman Temunggung Wiroguno. Pada suatu malam ia Berkemas-kemas mau minggat dari Kaputren.

Roro Mendut menjadi pelarian yang terus dikejar-kejar oleh Temunggung Wiroguno, berpindah-pindah tempat menghindari pasukan Temenggung Wiroguno, sehingga ia harus menyamar sebagai kawulo alit agar tidak dapat dihendus oleh telik sandi temenggung Wiroguno.

Ia memilih berjualan rokok di pinggir jalan yang ternyata laris sekali. Meski harga puntung rokoknya jauh lebih mahal dari pada rokok yang masih utuh, namun ternyata peminatnya justru membludak.
“Hai Roro Mendut mengapa sampai demikian ?” Tanya seorang pembeli yang amat penasaran.




“Mau tahu sebabnya?, tentu saja karena puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum!” jadi tegasnya, semakin pendek puntung bekas hisapan bibir sensual si Mendut, semakin nikmat citra rasanya. Puntung tersebut cukup lama dalam jepitan bibir hangat berliur.

Beberapa waktu kemudian, ia bertemu dengan salah seorang pelanggannya yang masih muda, gagah, tampan dan kaya. Pemuda tersebut Pranacitra, anak lelaki Janda Singobarong. Kemudian keduanya saling mabuk kepayang, bahkan sampai ke puncak asmara yang paling tinggi. Namun perselingkuhan mereka kepergok juga oleh Ki Wiroguno. Mereka diburu serta tertangkap di pinggir Kali Opak (sungai Opak) yang sedang banjir. Akhirnya Pranacitro tewas diujung keris Ki Tumenggung Wiroguno. Rara Mendut ikut Bela-Pati dengan menubrukkan badannya pada keris yang masih berlumuran darah dalam genggaman Tumenggung Wiroguno..”

Pasukan Joyo Kusumo mengirim 3000 prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa 400 orang bersenjata dan seseorang pembesar Jepara membawa 300 prajurit.

Pasukan Mataram terdiri dari 30.000 personil
Tumenggung Alap-alap bersama 1.000 prajurit merampok keraton Pragola yang masih dipertahankan 200 orang dan merampas wanita-wanitanya. Para wanita priyayi harus diangkut dengan tandu.

Ada versi lain bahwa Adipati Alap-alap melakukan bumihangus di kadipaten pati, sehingga istri Pragola Pati, lari dikejar sampai ke barat Desa Puri, maka Desa itu dinamakan Matraman.

Cerita ini sebenarnya berawal dari Karya sastra seorang Pujangga Keraton Kartosuro, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II (1727-1749), bernama R. Ngabehi Ronggo Janur, berjudul Serat Pranacitro.

SILSILAH ADIPATI PRAGOLA
(Versi Tutur Tinular)
Brawijaya V X Bodri Cemoro
(Bhre Kertabhumi) (Dayang)

Ki Ageng Tarub 1

Nawangsih X Bondan Kajawan

Getas Pandawa X Putri Sunan Bejagung
(Dyah Depok)
Roro Kasihan X Sunan Ngerang Ki Ageng Selo

Dewi Rarayano X Sahid Kusumastuti Ki Ageng Genis
Sunan Muria I
Dewi Pujiwati

Kembang Jaya Sukmayana Ki Ageng Pemanahan
(Versi Babad Tanah Jawi)
Brawijaya V X Bodri Cemoro
(Bhre Kertabhumi) (Dayang)

Ki Ageng Tarub I

Nawangsih X Bondan Kajawan

Getas Pandawa X Putri Sunan Bejagung
(Dyah Depok)
Roro Kasihan X Sunan Ngerang Ki Ageng Selo

Ki Ageng Pati Ki Ageng Genis
(Ki Gede Cermo)

 Ki Penjawi Ki Pemanahan
Kembang Joyo
Adipati Pati I

Jaya Kusuma I Rara Sari X Sutawijaya
(Panembahan Senopati)
Mas Jolang
(Panembahan Hanyakrawati)

Jaya Kusuma II X Ratna Sari Masrangsang
(Sultan Agung)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Keris Rambut Pinutung Dan Kuluk Kanigoro
Dua benda pusaka itu merupakan simbol Kabupaten Pati yang duplikatnya selalu diarak dalam peringatan hari jadi Kabupaten Pati. Dua benda pusaka tersebut sengaja diboyong dari Museum Radja Pustaka Solo untuk dipamerkan kepada masyarakat Pati.

Selain dua benda pusaka tersebut, ikut dipamerkan beberapa benda pusaka lainnya. Di antaranya “Keris Sengkelat” yang menjadi bagian dari berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Beberapa benda pusaka lainnya yang juga dipamerkan adalah, Keris Nogososro Kinatah, Piton, Tombak Giring, dan Tombak Sigar Jantung. Beberapa benda pusaka itu saat ini memang sudah dimiliki sejumlah musium atau dimiliki kolektor dari luar Pati.




Keris Nogososro Kinatah yang dipamerkan di pendapa kemarin adalah milik Eyang Suto, warga perumahan Winong, Pati. Sedangkan sedang sejumlah keris lainnya milik Brojo Buwono.

( Sebagian  disadur dari babat PATI )

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.