Jumat, 01 September 2017

Sebanyak 47 Ekor Sapi dan 5 Ekor Kerbau Di Potong selama Hari Meugang

    9/01/2017   No comments

Salah seorang pedagang Sapi saat Meugang Hari Raya Idul Adha di Kota Sabang
MOKI, Sabang-Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging menyambut Hari Raya Idul Adha 1437 H, para pedagang sapi di kota Sabang selama 2 hari meugangini telah memotong hewan sebanyak 52 ekor. Hewan yang dipotong tersebut terdiri dari 47 ekor sapi dan 5 ekor kerbau, dihari pertama meugang pertama dipotong 25 ekor sapi dan 2 ekor kerbau dan pada hari kedua 22 ekor sapi dan 3 ekor kerbau, ujar Syamsul seorang Mantri Hewan pada Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kota Sabang.




Menurutnya, jumlah hewan yang diopotong pada Rumah Potong Hewan untuk menyambut Hari Raya Idul Adha tidaklah sebanyak ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri. Pasalnya, pada Hari Raya Idul Adha banyak para dermawan yang memotong hewan untuk Qurban dan akan dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu sehingga jumlah hewan dipotong para pedagang berkurang.

Harga daging di Kota Sabang baik itu hewan jenis Sapi maupun jenis Kerbau per kilo gramnya Rp. 170.000.00, harga tersebut masih serupa seperti harga daging ketika menjelang bulan Puasa maupun saat hari Raya Idul Fitri yang lalu. Tingginya harga daging Sapi/Kerbau di Kota Sabang disebabkan harga beli hewan Sapi dan Kerbau sudah sangat mahal, dan secara otomatis para pedagang menaikkan harga daging per kilo gramnya, ujar Syamsul.

Pada hari pertama Meugang di Kota Sabang, terlihat daya beli masyarakat sangat menurun karena sampai jam 16.00 Wib masih terlihat ada daging milik pedagang yang belum laku terjual. Menurut salah seorang pedagang Sapi Ilyas (54 thn) yang kesehariannya juga berdagang daging sapi, kelesuan daya beli masyarakat dikarenakan miminnya pendapatan masyarakat sehingga mereka hanya mengharapkan daging dari Qurban para dermawan, ujarnya.




Saya amati para pembeli daging meugang kali ini, kebanyakan mereka yang tinggalnya di daerah perkotaan, sementara pembeli dari Gampong/Desa yang jauh dari pusat perbelanjaan masih terlihat satu-satu saja. Hal ini seharusnya diamati oleh para pengamat EKONOMI yang ada di Kota Sabang, mereka para pakar Ekonomi jangan hanya mengamati penghidupan masyarakat hanya dari belakang meja, padahal ekonomi masyarakat sudah merosot.

Dengan status Kota Sabang Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas mestinya ekonomi rakyat di Sabang dapat meningkat, namun telah 16 tahun usia Free Port Sabang ekonomi rakyat semakin merosot saja. Kompensasi dari Free Port terhadap rakyat Sabang selama 16 tahun ini tidak pernah terlihat, padahal untuk memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat harganya berstandart logo Free Port, hal ini perlu sekali menjadi perhatian pihak terkait maupun Pemerintah Pusat, tukas Ilyas.

Menurut Amrun, Escuador Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat Pelabuhan (TKBM) Sabang, kondisi yang paling memprihatinkan dalam menghadapi setiap tibanya Hari Raya adalah para Buruh Pelabuhan Sabang. Hal ini disebabkan tidak tetapnya pendapatan para Buruh Pelabuhan oleh karena minimnya bongkar muat di pelabuhan Sabang, dan konon katanya atau telah dundang-undangkan berstatus Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang.




Tetapi bila dilihat secara nyata nasib Buruh Pelabuhan yang berada di Pelabuhan Bebas dan Perdagangan bebas yang ada di dunia, yang paling bernasib buruk adalah para Buruh Koperasi TKBM Kota Sabang, pungkas Amrun.
“ Pantauan MOKI harga daging di Kota Sabang yang mencapai Rp. 170.000/kg selama 2 tahun belakangan ini adalah harga daging tertinggi di Provinsi Aceh. Sementara harga daging Sapi/Kerbau di Kota Banda Aceh Rp. 150.000/kg, hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi Pemerintah Daerah Kota maupun Pemerintah Provinsi dan harus ada Solusinya “. (Wapemred)

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.