Minggu, 25 November 2018

Perlunya Dilaksanakan Re-Naturalisasi Di Sabang

    11/25/2018   No comments

Rafli Kande saat bersama warga Kota Sabang ketika jumpa Pers
MOKI, Banda Aceh-Rafli Kande salah seorang Penyanyi Etnik Asal Aceh dan juga anggota DPD RI selepas melantunkan lagu diiringi Kiki Keyboard ketika ditemui Wapemred MOKI di Waroeng Kande miliknya di Banda Aceh mengatakan, Wisata di Kota Sabang seharusnya lebih mengedepankan Cita Rasa Tradisi atau Re Naturalisai yang telah menjadi Fase Dunia, ujarnya baru-baru ini.

Dikatakan bahwa, disetiap Gampong-gampong seharusnya didirikan Resort dan ada Home stay – home stay yang dikelola oleh Gampong, dan disitulah mulai hidup dia, dan akan terbangun karakter dalam suasana karakter ke Acehan. Jadi kalau ada dikatakan orang bahwa di Sabang ada Aulia 44 bukan seremoni, tetapi ada Horizontal dan ada Vertikal yang tersambung kebebiasaan keseharian masyarakat Sabang.

Kemudian, mini Resort yang dikelola disetiap Gampong ada home stay dan segala macam lainnya perlu dibangun, dengan demikian dalam jangka waktu lima tahun akan terbangun karakter dan nantinya setiap orang akan masuk ke fase Re-Naturalisasi dan merindukan yang Natural, kata Rafli.

Diterangkannya, Kande telah memulai dengan mengemas sauatu roh naturalisasi yang dikemas dalam bentuk modern, dinamis dan enak disajikan, intelek musikalnya dan menjadi satu sajian etnik musik. Musik Philip atau musik Gampong punya cita rasa yang mengglobal, mendunia, dan itu yang kita kemas selama ini. Jadi yang kita kemas bukan penyanyi dangdut karena itu bukan menjadi santapan para turis asing kala berwisata.

Setelah ini terbentuk, ketika malam jumat setiap orang tua dipanggung mereka itu dijadikan satu kegiatan keseharian Meratep, Dalla’eh, Sedati dan seni tradisi lainnya. Kegiatan tersebut harus menjadi suatu kegiatan rutin yang diwajibkan disetiap Gampong, meskipun kegiatan tersebut tanpa adanya penonton, jelas nya.

Lebih lanjut Rafli mengatakan, kalau kegiatan tersebut sudah menjadi satu kegiatan keseharian maka sudah menjadi satu cita rasa. Dan ketika ada kunjungan kapal pesiar, mereka akan berkeliling melihat apa saja kegiatan yang kita sajikan kepada mereka disetiap Gampong.

Dengan demikian, Kota Sabang akan menjadi terkafer menjadi Berkesenian, Tradisi, Etnik sampai Modern, setelah itu baru kita undang tamu dari luar negeri untuk tampil pada Salam Musik Philip. Hal tersebut telah dialami Kande saat tampil di London (Inggris) seluruh Negara Muslim turut tampil dan ditonton oleh jutaan orang, dan even tersebut selalu ditunggu setiap tahunnya oleh setiap Negara Muslim, ujar Rafli.

Fafli Kande pada keterangan Persnya juga menegaskan bahwa, “ jangan seperti kegiatan Regata yang dilaksanakan di Sabang, hanya empat kali even Regata dilaksanakan dan selanjutnya ditutup. Hal tersebut karena tidak ada Orientasi disebabkan tidak dilibatkannya Lokalisdem atau Konseptor Lisdem, sehingga habis uang negara tanpa hasil yang jelas “.

Padahal saya juga ikut mendorong kebijakan kegiatan tersebut, namun disaat Eksekutor, saya tidak turut dilibatkan. Tiba pelaksanaan Even Sabang Marine Festival tidak menjadi rasa apa-apa, asal saja. Even Jazz For Sabang juga asal saja kegiatannya, semua orang benci dan masyarakat Sabang saja benci melihatnya, tukas Rafli Kande.

Begitu juga dengan Even Sabang Marine Festival, Jazz For Vestival Sabang juga demikian, apalagi Sabang Fair dan acara SAIL Sabang tidak tersentuh di hati masyarakat. Yang paling miris adalah, setelah selesainya acara SAIL Sabang, selesai juga Penerbangan Garuda dan Lion Air atau dengan kata lain ditutup. Hal ini menunjukkan Indikator tidak maju, karena berbagai even yang direncanakan tanpa adanya Orientasi.

Ditegaskan, hari ini tidak bisa lagi dilakukan hal-hal seperti itu, oleh karena itu maka seluruh siswa/i kini diwajibkan paham akan seluruh Seni-seni Tradisi seperti, Sedati Saman, Ratep Meusekat, Rafa’i Releng serta semua Seni Tradisi yang ada di Aceh. Dan pada setiap hari Minggu, para Siswa/i akan dilepas pada setiap pantai, untuk melaksakan kegiatan Seni Tradisi, selanjutnya baru disana dibangun Stage-stage kecil. Untuk kesemua kegiatan Seni Tradisi tersebut, keseluruhan biayanya ditanggung oleh Pemerintah Daerah.

Kalau hal yang demikian tidak dilakukan, mau dibawa kemana masyarakat Sabang yang jumlahnya lebih dari dua puluh ribu jiwa yang berdiam di dua kecamatan padahal, Dana yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah cukup banyak.

Rafli juga mengatakan, Saya selalu siap membantu kebijakan untuk Kota Sabang namun, disaat Eksekusi saya selalu ditinggalkan. Perlu diketahui bahwa, kita itu punya uang yang sangat banyak, BPKS punya uang, Pemko juga punya uang dan disetiap Desa ada Dana Desa, mau dibawa kemana uang tersebut, dan selalu habis nggak ada artinya.

Mengenai Pelabuhan Bebas dan Perdaganngan Bebas Sabang, sekarang ini tidak perlu kita bicarakan dulu, karena yang terpenting sekarang ini adalah mengenai ketahanan masyarakat Sabang. Kalaupun kita kaya raya sekarang ini mau dibawa kemana, ada tidak kedamaian dalam kehidupan, ada tidak kita Happy dalam kehidupan, serta hidup berkecukupan dan anak-anak bisa bersekolah.

Rafli juga prihatin terhadap Sabang, karena terlampau besar dan jauhnya kita bercita-cita sehingga yang dekat kita tinggalkan, padahal yang paling berpotensi adalah yang dekat jadi harus kita manfaatkan. Kemudian BPKS, begitu sedihnya kita karena besarnya dana yang dikorupsi hingga mencapai 339 Milayar, jadi mental kita mau jadi gimana.

Jadi hari ini saya mau BPKS harus bisa mengelola satu Big Resort yang paling gede, disana dibangun Mesjid yang paling cantik. Kalau kita lihat di daerah wisata Iboih saja tidak ada dibangun Mesjid yang paling cantik, jadi itu harus jadi prioritas yang mesti dibangun. Nilai itu yang paling penting harus dibangun, tidak bisa kita lari dari nilainya, yang mesti kita bangun adalah cita rasa Islamnya, katanya.

Hal tersebut harus kita kedepankan, semakin itu kita tampilkan mereka akan semakin rindu, jadi BPKS harus mengedepankan hal tersebut. Seperti yang kita lihat para turis yang datang dengan kapal pesiar, mereka banyak yang tidak turun karena tidak adanya Cita Rasa. Tidak adanya suasana keseharian karena suasana Cita Rasa Tradisi atau Re Naturalisai, karena hal tersebut sudah menjadi Fase Dunia.

Karena telah menjadi Fase Funia maka titik modernnya sudah pada level yang paling tinggi sehingga titik jenuhnya telah memuncak. Oleh karena itu yang diperlukan oleh mereka adalah Back to Basick yaitu Re Naturalisasi. Jadi yang kita perlukan sekarang ini adalah membuat Seminar Seni Tradisi yang akan kita terapkan di masyarakat, tukas Rafli.

Awal saya di DPD RI, saya mengajak bangkitkan Seni Budaya, namun tidak ada yang mau ikut, sehingga saya berfikiran buntu. Jadi mau mencari kemana lagi Referensi membuat Seni Budaya besar yang bertaraf Internasional. Sementara tari Saman kini telah mendunia, seperti yang kita saksikan bersama baru-baru ini paada acara puncak Asian Games.

“Coba kita lihat kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang begitu besar dan menghabiskan dana mencapai 72 Milyar, untuk tingkat Nasional saja tidak Viral. Padaahal Aceh telah terbuka Isolasi oleh Dunia, Ronaldo saja sudah datang ke Aceh, Jacky Chan, Bill Clinton, Kopi Anan, George Soros juga sudah ke Sabang“

Seharusnya ajang PKA yang lalu, diberitahukan kepada para masyarakat dunia dengan Progres awal sejak runtuh oleh Tsunami dan empat belas tahun yang lalu kita Update kepada mereka kita kemas dalam bentuk Video Pra Tsunami dan kondisi Aceh sekarang ini. Dengan ucapan terimakasih atas bantuannya dan kita undang untuk mengikuti perayaan besar PKA, dan mereka akan datang sendiri dengan dana sendiri, pungkas Rafli Kande.(Tiopan. AP/Eddy Christian Sujono)

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.