Senin, 03 Desember 2018

Ketua Forum PRB Aceh ; Dengan Festival SMAB Mengurangi Resiko Bencana

    12/03/2018   No comments

Ketua Forum PRB Provinsi Aceh Nasir Nurdin, pada acara penutupan SMAB, Minggu (02/12-18) malam. 
MOKI, Banda Aceh-Forum Penanggulangan Resiko Bencana (F-PRB) Provinsi Aceh bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Aceh, melaksanakan Kegiatan Festival Sekolah/Madrasah Aman Bencana (SMAB) dari tanggal 01 -02 Desember 2018 di Museum Tsunami Aceh.

Demikian dikatakan oleh Ketua Forum – PRB Aceh Nasir Nurdin, Minggu malam (02/12-18), saat Pidato penutupan Festival Sekolah/Madrasah Aman Bencana (SMAB) 2018, yang diikuti oleh 14 Peserta Sekolah/Madrasah yang ada diseputaran Lapangan Blang Padang Kota Banda Aceh.

Lebih lanjut Nasir Nurdin mengatakan, kegiatan malam ini merupakan puncak dari pada rangkaian kegiatan Festival Sekolah Madrasah Aman Bencana yang merupakan kerjasama Forum Penanggulangan Resiko Bencana Aceh dengan Dinas Pendidikan Aceh serta dibawah arahan Lading Sektor kita Badan Penanggulangan Bencana Aceh, ujarnya.

Saya juga mengucapkan terimakasih kepada pengurus F-PRB dan Dewan Pakar serta panitia pelaksana SMAB, para Relawan, Rapi dan pihak lainnya yang telah mendukung penuh terlaksananya acara Festival SMAB dari awal hingga akhir Festival.

Acara yang telah dilaksanakan selama dua hari ini diawali dengan Simulasi, Evakuasi Mandiri yang melibatkan 14 Sekolah. Kami melihat dari Simulasi yang telah dilaksanakan pada hari pertama kemarin bahwa, Sekolah sudah benar-benar siap, dan mereka telah tahu apa yang harus dilaksanakan ketika bencana itu benar benar datang, kata Nasir Nurdin.

Nasir juga mengatakan, tim penilai juga telah mengetahui begitu baiknya kemampuan dan penguasaan dari pada anak-anak Sekolah maupun Madrasah. Namun demikian, kita akan mencari mana yang terbaik dari 14 Sekolah dan Madrasah yang rata-rata kemampuannya setara dengan yang lainnya.

Kegiatan ini kedepannya juga akan kita perluas, kalau sekarang ini pesertanya hanya Sekolah dan Madrasah yang ada di sepuran Lapangan Blang Padang Kota Banda Aceh. Kedepannya diharapkan dapat dilaksanakan pada setiap Kabupaten/Kota di Aceh, harapan kami kepada Dinas Pendidikan Aceh, BPBA dapat mendukung kegiatan ini dan kami dari Forum-PRB siap melaksanakan Even-even tersebut, ujar Ketua F-PRB Aceh.

Forum Penanggulangan Resiko Bencana Aceh, selalu siap untuk menanggulangi Resiko Bencana yang terjadi di daerah kita dan tanpa dapat kita ketahui atau prediksi kapan bencana itu tiba. Namun demikian dengan adanya persiapan dari kita menghadapai bencana yang akan tiba dengan kegiatan Simulasi dan Evakuasi Mandiri, maka korban yang akan timbul tidaklah banyak seperti saat Gempa dan Tsunami yang lalu.

Perlu diketahaui juga bahwa, kami juga ada melaksanakan kegiatan Work Shop yang dilaksanakan oleh juri dengan pesertanya anak Sekolah dengan memperlihatkan bagaimana para anak sekolah di Luar Negeri menanggulangi Resiko Bancana, jadi para generasi dari Milenial juga kita akan libatkan menjadi Duta Penanggulangan Resiko Bencana Aceh yang akan kita kirimkan ke Luar Negeri. Dengan demikian kedepannya, kita akan dapat menjadi Aceh yang Hebat, Aceh yang Kuat serta Aceh yang Tangguh dan siap menghadapai bencana dan menanggulangi Bencana dimasa mendatang, kata Nasir Nurdin.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Saridin, S.Pd, M.Pd pada acara penutupan Festival SMA mengatakan, Festival SMAB ada beberapa katagori yang diperlombakan dan nantinya akan diumumkan Sekolah mana saja yang diunggulkan dan terbaik pada even SMAB yang telah dilaksanakan selama dua hari ini, ujarnya.

Dinas Pendidikan Aceh sejak tahun 2015 telah melaksanakan kegiatan yang melibatkan seluruh komponen Siaga Bencana terutama melalui sekolah-sekolah dari SD-SMP-SMA dan kegiatan itu selalu dilaksanakan. Lebih dari 70 Sekolah yang telah kita jadikan Pilot Projek dan 3500 orang Guru yang telah dilatih tentang tiori menghadapai bencana bila bencana itu datang, karena Aceh merupakan salah satu daerah yang rawan bencana, jadi kita harus selalu siap dan selalu siaga bila bencana itu datang.

Oleh karena itu, ajang kegiatan Festifal SMAB ini kita laksanakan di Museum Tsumani Aceh yang dibangun setelah daerah kita dilanda bencana yang sangat dahsyat Gempa dan Tsunami tahun 2004 silam. Pada waktu bencana terjadi, saya masih tercatat sebagai guru di SMAN I Banda Aceh, ada 25 orang Guru SMAN I yang korban dan meninggal dunia serta 800 orang siswa yang terkena bencana baik itu yang meninggal dunia maupun yang selamat.

Saya adalah salah satu korban dari Guru SMAN I yang selamat dari Bencana Gempa dan Tsunami, dan dari keluarga saya yang terlanda Gempa dan Tsunami hanya saya yang dapat selamat dan lainnya hilang. Dari kejadian tersebut hal yang terpenting adalah, bagaimana kita harus dapat menyampaikan kepada seluruh Masyarakat Aceh, tentunya melalui pendidikan agar setiap saat kita selalu siap dan siaga, tukas Saridin.

Plt. Gubernur Aceh diwakili oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh H.T. Akhmad Dani SH menutup acara Festival SMAB mengatakan, dalam sistim penanggulangan Resiko Bencana kita menganut tiga prinsip. Prinsip pertama adalah prinsip Smong atau prinsip Tsunami, dalam arti kata apabila posisi kita berada di pinggir pantai tidak perlu berkoordinasi dengan lainnya dan harus dengan segera mandiri untuk menyelamatkan diri, ujarnya.

Prinsip kedua adalah Gempa, oleh karena daerah kita Aceh rawan Gempa makanya dalam membangun suatu pembangunan haruslah bangunan tersebut yang tahan Gempa. Perilaku kita juga harus yang ramah lingkungan, dan ada yang namanya segitiga kehidupan. Bila terjadi Gempa janganlah kita menyelamatkan diri dibawah meja, melainkan carilah tempat yang aman seperti yang dicari oleh hewan-hewan, karena mereka mempunyai naluri yang tajam dalam menyelamatkan diri.

Pada prinsip yang ketiga adalah Pengetahuan, keselamtan itu bukanlah pura-pura melainkan direncanakan, jadi Pengetahuan ada hubungannya ketika kita mencari keselamatan bila terkena Bencana. Ketika Bencana Gempa dan Tsunami melanda kita, banyak masyarakat yang selamat dari musibah tersebut terutama masyarakat yang berasal dari Pulau Simeulue Sinabang.

Korban yang banyak tidak selamat adalah karena terkena reruntuhan bangunan, hal tersebut terjadi karena ketidak tahuan apa itu Smong atau Tsunami, oleh karena itu Pengetahauan itu sangatlah penting dalam kontek keselamatan kita dimasa-masa mendatang, pungkas HT Akhmad Dani.(Tiopan. AP)

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.