Selasa, 11 Desember 2018

Wabup Sumenep, Pemanfaatan Pangan Lokal Masyarakat Masih Sangat Rendah

    12/11/2018   No comments

MOKI, Sumenep-Masyarakat Sumenep masih rendah dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai bahan konsumsi sehari-hari sehingga perlu dorongan agar masyarakat mencintai dan mengkonsumsinya.

“Rendahnya pemanfaatan pangan lokal terlihat pada skor PPH tahun 2018 untuk umbi-umbian hanya sebesar 2,2, padahal standart nasional yakni 2,5. Sementara setiap tahun terjadi alih fungsi lahan yang perlu upaya meningkatkan diverensi pangan terutama pangan lokal.” kata Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, SH pada Rakor Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumenep tahun 2018 di Kantor Bupati, Selasa (11/12/2018).

Ia berharap, pihak terkait pemerintah daerah harus mempertajam sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan pangan, bahkan perlu adanya regulasi agar masyarakat mengkonsumsi pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari, maupun pada acara-acara dan kegiatan di Kabupaten Sumenep.

“Diharapkan terbentuk sinergitas kebijakan, program dan kegiatan masing-masing instansi, serta dukungan dari masyarakat untuk berpartisipasi aktif mengimplementasikan pemanfaatan pangan lokal sebagai konsumsi masyarakat Sumenep.” imbuh suami Nia Kurnia ini.

Wakil Bupati menyatakan, kondisi ketahanan pangan di Kabupaten Sumenep tahun 2017 adalah produksi padi sebesar 277 ribu 740 ton, jagung sebesar 413 ribu 053 ton, kedelai sebesar 6.290 ton, produksi ikan sebesar 47 ribu 547 ton, daging sebesar 4.575 ton dan telur 4.142 ton.

Sedangkan konsumsi pangan masyarakat saat ini, masih didominasi karbohidrat dan padi-padian dengan skor PPH sebesar 39,3 diatas standart nasional yaitu sebesar 25,0.

“Tentu saja dewan ketahanan pangan memiliki peranan penting dalam mengarahkan, merumuskan, serta mengawal implementasi kebijakan ketahanan pangan dalam mewujudkan, mendorong keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan ketahanan pangan, serta mengevaluasi program ketahanan pangan.” tutur pengusaha muda sukses ini.

Wakil Bupati mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan status gizi masyarakat, cakupan balita dengan berat badan di Bawah Garis Merah (BGM) sebesar 0,59 persen dengan target di bawah 15 persen, sehingga khusus balita dengan BGM berada pada kondisi cukup baik.

“Sedangkan untuk prevalensi stunting balita usia 0-59 bulan Kabupaten Sumenep tahun 2017 sebesar 32,3 persen, sedangkan rata-rata Provinsi Jawa Timur sebesar 26,7 persen artinya prevalensi stunting di Sumenep masih tinggi," pungkasnya. (sar)

Previous
Next Post
© 2008 KabarInvestigasi I Portal Of Investigation. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.