Rabu, 20 Maret 2019

GSBI Kecam Penangkapan 10 Buruh Awak Mobil Tangki PT.Pertamina

    3/20/2019   No comments

MOKI, Jakarta-Gabungan serikat buruh indonesia (GSBI) Mengecam penangkapan 10 buruh Awak Mobil Tangki (AMT) PT.Pertamina patra Niaga oleh polres jakarta utara dan segera bebaskan tanpa syarat.

Presiden Jokowi telah menunjukkan pemerintahannya yang anti demokrasi dan anti rakyat dengan terus melakukan penangkapan buruh dan aktifis yang berjuang untuk mendapatkan hak demokratis.

Kali ini Penangkapan terhadap 10 buruh Awak Mobil Tangki (AMT) PT. Pertamina Patra Niaga oleh Polres Jakarta Utara pada 19 Maret 2019 di Posko Perjuangan buruh AMT di Plumpang Jakarta Utara. Polisi datang ke posko perjuangan dan mengajak buruh AMT ke Polres Jakarta Utara dengan dijanjikan akan difasilitasi untuk penyelesaian kasus. Setelah berada di Polres 10 buruh AMT justru dilakukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Dan Kabar melalui Media Tempo Polres Sudah menetapkan tersangka dalam kasus tuduhan Sabotase 2 mobil tangki PT.Pertamina Patra Niaga.

“Peranan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) yang akan memberikan pendampingan dan advokasi buruh AMT kabarnya dicekal, Polres Jakarta Utara tidak memperbolekan LBH Jakarta memberikan pendampingan hukum kepada buruh AMT.”Kata Sujatmika Supriyadi koordinator DPP GSBI,Rabu (20/3/2019).

GSBI memandang Penangkapan tersebut merupakan bentuk intimidasi,teror serta upaya meredam tuntutan dan perjuangan buruh AMT untuk pemenuhan hak demokratis dan perbaikan kesejahterahan hidup buruh AMT beserta keluargnya di tengah penderitaan dan kesengsaraan rakyat yang semakin dalam dampak dari pelaksanakaan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 1-16 yang hakekatnya menjalankan Neoliberalisme di Indonesia.

Kesepuluh buruh AMT ditangkap dengan tuduhan melakukan sabotase 2 mobil tangki pertamina dari Depo Pertamina Pelumpang Jakarta Utara yang akan dikirim ke SPBU Tangerang.

Upaya buruh AMT membawa mobil tangki pertamina yang berisi Biosolar dalam aksi demontrasi yang diselenggarakan pada Senin,18 Maret 2019 di Taman Aspirasi depan Istana Negara yang merupakan bentuk protes dan kekesalan buruh AMT kepada Presiden Joko Widodo yang membiarkan kasus PHK sepihak 1.095 buruh AMT sejak 2016.Padahal 31 Januari 2019 Presiden Joko Widodo telah bertemu dengan perwakilan buruh AMT dan memberikan janji penyelesaian kasus dengan menunjuk Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Latar belakang PHK sepihak 1.095 buruh PT.Pertamina Patra Niaga pada 2016 silam berawal ketika buruh AMT mogok kerja menuntut pembayaran upah lembur dan menolak sistem Outsourcing di Pertamina serta menuntut diangkat menjadi buruh tetap,sebab buruh AMT sudah puluhan tahun memberikan pengabdiannya kepada Pertamina dengan pendistribusian BBM. Undang-Undang Ketenagakerjaan no.13 tahun 2003 bahwa pekerjaan yang menjadi corebussines (inti produksi dari perusahaan) tidak dapat dioutsourcingkan

“Seharusnya PT. Pertamina Patra Niaga memberikan perlindungan dan kesejahterahan buruh AMT, bukan sebaliknya PT.Pertamina Patra Niaga melakukan pemecatan dan pemberangusan hak demokrasi.” Ujarnya.

Menurut suja sapaan Sujatmika Supriyadi,GSBI sangat mengecam penangkapan buruh Awak mobil tangki pertamina.

“Berdasarkan peristiwa tersebut.Kami Gabungan Serikat Buruh Indonesia Jakarta mengecam penangkapan terhadap 10 buruh Awak Mobil Tangki PT. Pertamina Patra Niaga dan segera bebaskan tanpa syarat!,Selain itu kami juga menuntut,segera pekerjakan kembali buruh AMT dan angkat menjadi buruh tetap serta berikan hak-hak buruh AMT yang telah dirampas PT.Pertamina Patra Niaga dan berikan kebebasan berkumpul,berpendapat bagi buruh awak mobil tangki Pertamina.”Tegasnya.

Selain itu,GSBI juga meyerukan kepada buruh AMT berserta keluarganya untuk memperkuat persatuan agar tidak terpecah belah dan mengajak klas buruh Indonesia untuk mendukung perjuangan buruh Awak Mobil Tangki Pertamina. (Marsan)

Iklan-Devis
Previous
Next Post
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Media Online Kabar Investigasi. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.