Sabtu, 09 Maret 2019

Rakyat Aceh Butuh Kesejahteraan Bukan Simbol dan Lambang

    3/09/2019   No comments

Amir Hasan Nazri Al-Mujahid.
MOKI - Banda Aceh : Setelah lebih kurang 14 tahun kesepahaman damai Aceh, lewat memorandum of understanding (MoU). Kesejahteraan rakyat masih jauh dari harapan dan cita-cita.

Padahal, MoU yang ditandangani di Helsinky, Finlandia, pada 15 Agustus 2015 lalu adalah awal kebangkitan Aceh, paska konflik panjang yang mendera propinsi paling barat Nusantara itu.

Rakyat Aceh butuh kesejahteraan, keadilan seperti kita melihat fenomena kekinian Aceh dimaksud di jelaskan oleh salah seorang tokoh masyarakat, Amir Hasan Nazri Al-Mujahid, kepada media ini, Sabtu (9/3/2019) merasa miris. Ia menyebut, saat ini Aceh butuh kesejahteraan bukan simbol atau lambang-lambang semata." Ujarnya.

"Kita selalu terjebak pada janji manis dan harapan palsu. Kesejahteraan menjadi harapan yang tak kunjung tiba. Sebaliknya, kebutuhan lambang dan simbol Aceh yang di duga seperti diprioritas oleh segelintir elit jelang tahun politik ini, begitulah sebut Amir Hasan Nazri Al-Mujahid di Banda Aceh.

Yakni, dirinya ini salah satu Putra bungsu dari Almarhum Jenderal Mayor Amir Husein Al-Mujahid melihat, kondisi Aceh paska damai sebenarnya sudah harus sejahtera. Kesejahteraan sudah didepan mata. Hanya saja kita semua dibelenggu dengan persoalan simbolisme semata." Katanya.

Maksudnya, lanjut dia, segala daya hendaknya dipergunakan untuk membangun Aceh secara komprehensif. Tidak lagi sibuk memperdebatkan lambang atau simbol ke-Acehan yang sebenarnya belum menyentuh substansi kesejahteraan rakyat.

"Bendera Aceh, lambang, hymne dan lainnya penting. Tapi jauh lebih penting mendongkrak perekonomian rakyat sehingga rakyat bisa sejahtera, begitulah harapan kita di Aceh yang megah dengan kemuliaan adat istiadat sejak dulu menjujung kemakmuran untuk rakyat, demikian kata Amir Hasan Nazri yang akrab di kenal dengan panggilan Acang ini.

Ia memohon kepada pemangku kepentingan di tataran eksekutif dan legislatif Aceh agar tidak lagi memperdebatkan simbolistik Aceh. Akan tetapi, merajut kebersamaan dalam membangun Aceh yang sejahtera.

Lebih lanjut diungkapkan, elit politik lokal Aceh jangan lagi mengelukan simbol-simbol ke-Acehan yang sebenarnya tidak dibutuhkan rakyat. Malah hal itu, dikhawatirkan memicu memperkeruh suasana damai Aceh yang telah terbina.

"Ini tahun politik. Isu bendera dan simbol jangan lagi dijual. Jualanlah program, visi dan misi membangun Aceh baru yang bisa mendongkrak perekonomian rakyat dan sejahtera atau New Aceh Sociaty," wujudkanlah hal tersebut yang dinginkan salah satu cucu Raja Karang ini untuk Aceh.

"Orang tua kami dahulu meninggalkan jabatan di pemerintahan demi memperjuangkan hak-hak dan marwah Aceh. Bukan malah dengan alasan perjuangan, kemudian mendapatkan jabatan tertentu," demikian penjelasan di akhir cerita putra bungsu Amir Husen Al-Mujahid.(red)

Iklan-Devis
Previous
Next Post
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Media Online Kabar Investigasi. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.