Jumat, 26 Juli 2019

Sampah Plastik Jadi Perhatian Utama Sekda Pati

    7/26/2019   No comments

MOKI, PATI-Isu pengelolaan sampah selalu mendapatkan perhatian serius dari Sekda Pati Suharyono. Itu lantaran sebelum menjabat sebagai Sekda, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pati ini selalu getol memperjuangkan pengelolaan sampah di Kabupaten Pati.

Bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Suharyono dulu rutin mengantarkan Kabupaten Pati meraih Adipura bahkan Adipura Kencana melalui program unggulan pengelolaan sampah di TPA Sukoharjo Pati.

Maka ketika hari ini DLH menggelar kegiatan Pungut Sampah sekaligus sosialisasi pengurangan sampah plastik, Suharyono amat antusias dan mendukung gerakan ini.

Itu lantaran ia pula yang selama ini getol mendorong DLH untuk segera menuntaskan rancangan Peraturan Bupati tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

"Alhamdulillah, rancangan Perbup tersebut telah ditandatangani menjadi Perbup Nomer 33 tahun 2019", ujarnya saat diwawancarai Tim Liputan Humas Setda pagi tadi.

Kerisauan Sekda soal sampah plastik bukan tanpa alasan. Selain sampah plastik mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan, sampah jenis ini juga bisa menjadi ancaman manusia.  Apalagi sampah plastik baru dapat mulai terurai paling tidak setelah 20 tahun di dalam tanah. Dan jika kantong plastik itu berada di air, akan lebih sulit lagi terurai.

"Selain jadi penyebab banjir, partikel plastik yang berasal dari sampah plastik secara tidak sengaja bisa dikonsumsi hewan laut. Dan ketika hewan tersebut makan, dan partikel plastik ini tidak dapat dicerna ikan. Racun yang terdapat dalam partikel plastik otomatis akan masuk ke dalam tubuh kita jika kita mengkonsumsi ikan tersebut", jelasnya.

Menurut Sekda, selain pihaknya berjuang melalui penyusunan regulasi, ia pun berkomitmen untuk terus mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk menerapkan strategi pengelolaan limbah sampah khususnya plastik di rumah masing-masing.

"Mari kita ajak masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada plastik. Banyak di antara kita yang sering menggunakan kantong plastik, sedotan, botol, gelas, dan lain-lain. Sebagai pengganti, masyarakat bisa membeli dan menggunakan tas yang dapat digunakan kembali dan minum tanpa menggunakan sedotan", imbuhnya.

Suharyono juga amat mengapresiasi komplek perumahan yang menyediakan bank sampah di mana warga setempat dapat menyerahkan sampah plastik dan semua sampah yang bisa didaur ulang kepada bank sampah dengan imbalan uang tunai.

Dengan begitu warga juga terlatih memisahkan sampah menjadi dua bagian yaitu sampah organik dan non-organik.

Sampah organik, lanjut Sekda, diubah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik dikirim ke pabrik-pabrik daur ulang dan dipisahkan menjadi 4 kategori yaitu plastik, kertas, botol, dan logam.

"Mendaur ulang sampah adalah cara yang paling layak dan efisien dalam mengatasi bertambahnya limbah plastik sehingga tercapailah ekonomi berkelanjutan", terang Sekda.

Pengalaman Suharyono soal sampah memang tak perlu diragukan.

Saat menjadi Kepala DPU, ia berhasil membangun kerja sama yang kompak dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) dalam pengelolaan sampah.

Kala itu Suharyono turut menyulap Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Sukoharjo, yang sebelumnya kumuh dan bau tak sedap, menjadi obyek wisata, arena hiburan satwa dan mainan anak. 

Pada awalnya, TPA Sukoharjo menangani  sampah dengan sistim Open Dumping. Yaitu sampah ditumpuk dan tidak ditutup.  Lalu ditangani dengan sistim Control Landfield, yakni gundukan sampah ditutup dengan jeda waktu setiap dua hari sekali.

Penutupan sampah dimaksudkan supaya  mematikan perkembangan lalat dan menyalurkan gas.

Setelah menjadi Sekda, Suharyono pun terus mendukung DLH dan DPUTR untuk mengembangkan sistim  Sanitary Landield. Sistem ini memasukkan sampah ke dalam lobang namun hanya sampah jenis organik atau yang terdiri dari daun saja.

Ketika masih menjabat sebagai Kepala DPUTR, Suharyono juga turut memperjuangkan miliaran rupiah dari APBN untuk Sanitary Landfiled TPA Sukoharjo.

Puncaknya keberadaan TPA Sukoharjo Pati sempat menjadi yang terbaik di pulau Jawa, karena berhasil mengalahkan pengelolaan sampah di Bandargebang Jakarta Timur. (Red)

Iklan-Devis
Previous
Next Post
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Media Online Kabar Investigasi. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.