Kamis, 23 April 2020

Ditemukan Penyakit Faciola Hepatica pada Ternak Sapi Dan Kerbau di Hari Meugang Ke Dua di Kota Sabang

    4/23/2020   No comments

MOKI, Sabang-Pada hari Meugang kedua puasa 1441 Hijriah di Kota Sabang, harga daging ternak Sapi dan ternak Kerbau masih sama seperti harga kemarin, namun ada ditemukan 1 hati sapi dan 1 hati kerbau yang tidak dapat dikonsumsi karena terkontaminasi cacaing atau dengan kata lain Fasiolosis Hepatica (penyakit hati). Keempat hati yang ditemukan langsung disita oleh pihak Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang.

Hal tersebut dikatakan oleh Kabid Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang drh. Jaya Saputra kepada MOKI Kamis (23/04-20) pagi dilokasi pasar daging, jl. Malahayati Kuta Barat Kecamatan Sukakarya Sabang. Sambil menunjukkan hati yang terkontaminasi ulat atau telah kena penyakit hati dan selanjutnya dimasukkan kedalam wadah untuk disita dan disimpan sebagai bahan temuan selama hari meugang puasa kali ini.

drh. Jaya Saputra pada keterangannya mengatakan, Fascioliasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Fasciola. Dua spesies Fasciola (tipe) menginfeksi manusia. Spesies utama adalah Fasciola hepatica, yang juga dikenal sebagai “cacing hati yang umum” dan “cacing hati domba.” Spesies terkait, Fasciola gigantica, juga dapat menginfeksi manusia. Ini adalah penyakit parasityang umum terjadi dan terdistribusi secara kosmopolitan.

Fascioliasis adalah penyakit Zoonosis ditularkan melalui air dan foodborne yang disebabkan oleh dua parasit kelas Trematoda, genus Fasciola yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Fascioliasis lebih sering terjadi pada hewan ternak dan hewan lain daripada pada manusia, karena manusia adalah inang insidental dan terinfeksi dengan menelan selada air atau air yang terkontaminasi. Itu besar (panjang 3 cm), ujar Jaya Saputra.

Dikatakannya, Cacing dewasa berada di saluran empedu besar dan kantong empedu. Penyakit ini terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah dengan produksi domba atau sapi yang intensif. Insidensi infeksi manusia telah meningkat selama 20 tahun terakhir.

Meskipun F. hepatica dan F. gigantica adalah spesies yang berbeda, “bentuk peralihan” yang dianggap mewakili hibrida dari dua spesies telah ditemukan di beberapa bagian Asia dan Afrika di mana kedua spesies ini endemik. Bentuk-bentuk ini biasanya memiliki karakteristik morfologis menengah, kata drh. Jaya Saputra

Lebih lanjut Jaya menjelaskan, gejala penyakit ini adalah penurunan berat badan; akumulasi cairan di perut karena kerusakan hati; ‘Rahang botol’ atau kumpulan cairan di rahang bawah; diare; kelesuan diikuti oleh kematian. Obat pilihan adalah triclabendazole. Obat ini diberikan melalui mulut, biasanya dalam dua dosis. Kebanyakan orang merespons pengobatan dengan baik.

Cacing hati atau nama latinnya Fasciola gigantica atau Fasciola hepatica umumnya menyerang ternak sapi, kambing, domba dan ruminansia lain. Fasciola hepatica lebih banyak dijumpai diwilayah beriklim dingin sampai sedang, sedangkan Fasciola gigantica lebih dominan diwilayah beriklim tropis. Lokasi cacing dewasa hidup dalam saluran empedu sapi, kambing, domba dan ruminansia lain, jelasnya.

Mengakhiri keterangannya mengatakan, hidup cacing tersebut adalah cacing dewasa bertelur didalam kantong empedi dan telur keluar mengikuti aliran empedu, kemudian bersama feses. Pada kondisi lingkungan yang mendukung telur akan menetas  dan menjadi mirasidium. Mirasidium hidup didalam air dan berenang mencari hospes intermedier (HI) yaitu siput golongan Lymnea sp. Di dalam tubuh siput mirasiudium berubah menjadi sporokista. Sporokista membagi diri menjadi redia.

Redia terbagi menjadi cercaria. Cercaria berkembang menjadi metacercaria. Infeksi terjadi apabila hewan memakan rumput yang mengandung cercaria. Didalam usus metasercaria pecah dan keluarlah cacing muda. Sekitar 4-8 hari pasca infeksi, sebagian besar cacing telah menembus hati dan migrasi ke parenkim hati. Migrasi dalam hati memerlukan waktu 5-6 minggu dan minggu ke 7 telah sampai dalam saluran empedu dan delapan minggu setelah infeksi, cacing sudah bertelur.

Gejala klinis pada hewan, pada kasus akut terjadi kematian mendadak pada domba. Pada kasus kronis pada sapi terjadi gangguan pencernaan berupa sembelit dengan feses kering. Pada kasus berat sering terjadi mencret, pucat, lemah dan kurus, gejala anemia, penurunan kandungan protein dalam tubuh, terjadi oedema subkutan terutama pada intermandibula. Diagnosis berdasarkan gejala klinis dan diperkuat dengan penemuan telur cacing dalam tinja. Ternak yang terinfestasi cacing hati, tidak berpengaruh pada dagingnya, aman untuk dikonsumsi, pungkas Kabid Peternakan drh, Jaya Saputra, (Tiopan. AP)

Keterangan Foto  :
Hati Sapi yang ditemukan terkontaminasi terrkena pernyakit cacing hati Faciola Hepatica

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.