Rabu, 22 April 2020

Harga Bahan Pokok, Daging Di hari Megang di Kota Sabang Stabil, Cabai Merah Keriting Dan Gula Melonjak Secara Tajam

    4/22/2020   No comments

Pasar Daging Rakyat di Kota Sabang, Rabu (22/04-2020)
MOKI, Sabang-Menyambut Bulan Suci Rahmadhan 1441 Hijriah di Kota paling ujung barat Perbatasan Wilayah Repulik Indonesia pantauan MOKI stabil seperti tahun lalu, harga daging hewan Sapi Rp. 180.000/kg dan harga daging hewan Kerbau Rp. 170.000/kg. Sementara harga harga komoditi yang naik meningkat adalah harga Cabai Merah keriting dan harga Gula Import.

Meskipun kita masih dilanda dalam musibah Virus Covid – 19, terlihat masyarakat Kota Sabang sebagai Kota Perbatasan Wilayah RI ujung paling barat, banyak menyerbu pasar rakyat dan membeli perbekalannya dalam menyambut hari Meugang pertama dan terlihat di sepanjang Jalan Perdagangan sampai ke jalan Malahayati Kuta Bawah Barat.

Pantauan MOKI Rabu (22/04-20) harga daging per kilogramnya sama dengan harga daging tahun lalu yaitu, harga daging hewan Sapi Rp. 180.000/kg dan daging harga Kerbau Rp. 170,000/kg. Tampak terlihat banyak masyarakat yang menyerbu pasar daging meskipun harga daging tidak ada penurunan harga. Walaupun musibah Virus Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia masyarakat Sabang tetap banyak yang menuju pasar tradisionil membeli kebutuhannya menyambut bulan suci Rahmadhan.

Dari pantauan MOKI harga kebutuhan masyarakat yang terlihat naik sangat menyolok adalah harga Cabai Merah Keriting yang mencapai per/kg nya Rp. 170.000, dan harga Gula Rp. 14.000/kg. Sangatlah tidak layaknya apabila harga gula sampai sedemikian tinggi padahal gula tersebut sebelumnya hanya Rp. 10.000/kg, dan sejak musibah ini bukannya malah turun harga gula yang berasal dari Thailand, malahan semakin meningkat, ujar salah seorang ibi rumah tangga yang ngoceh sambil berlalu di lokasi pasar tradiosional.

Menurut TP salah seorang warga Sabang, pengusaha Importer gula yang hidupnya di Kota Sabang bukannya prihatin kepada masyarakat yang sedang dilanda Covid-19 yang harus banyak berdiam diri di rumah masing masing sesuai anjuran Pemerintah. Tetapi mereka Importir  malahan menaikkan harga gula, padahal gula yang diperjual belikan tersebut masuk ke Sabang sebelum musibah Virus Covid-19 mencuat kepermukaan.

Namun pihak Importir menaikkan harga gula dengan sepihak sebab harga beli mereka hanya 450 an per Zak dan kini mencapai 650 rinbuan per Zaknya (isi 50 kg), bagaimana mungkin mereka dengan seenaknya menaikkan harga gula tanpa permbelian baru sesuai harga pasar. Diharapkan Pemerintah Sabang melalui Disperindagkop dapat menertipkan para pengusaha yang sesukanya menaikkan harga tanpa ada kompromi dengan Pemerintah Daerah, ujarnya dengan kesal.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Tanamanan Pangan Perkebunan Kehutanan Kota Sabang Fahkry ST.MAP yang didampingi Kabid Peternakan Drh. Jaya Saputra ketika ditemui Wapemred MOKI pada keterangannya mengatakan, mengingat masih belum berakhirnya musibah yang melanda kita Virus Covid-19 maka dianjurkan kepada para pedagang musiman daging hewan sapai maupun kerbau dalam menata meja jualannya harus berjarak sesuai anjuran dari Pemerintah, ujarnya.

Fahkry juga mengatakan, hewan yang disembelih pada hari meugang pertama ini sebanyak 40 ekor yang terdiri dari 38 ekor hewan sapai dan 2 ekor hewan kerbau. Pemotongan hewan dilakukan di rumah potong dan ada juga yang di Gampong Gampong karena tidak tertampung di Rumah Potong Hewan, kami juga menganjurkan disetiap Gampong yang menyembelih dapat melakukan penjualan ditempatnya masing masing namun kami tidak menyediakn tempat atau lokasinya.

Hal tersebut dianjurkan kepada setiap gampong adalah, agar tidak membludaknya masyarakat menuju pasar penjualan daging, karena mengingat bencana Virus Covid-19 yang melanda belumlah mereda, bahkan dibeberapa daerah lainnya di Indonesia diberlalukan PSBB untuk pencegahan penularan Virus, tukas Fahkry ST MAP.

Pada kesempatan yang sama Kabid Peternakan Drh. Jaya Saputra menambahkan, jenis hewan yang disembelih di rumah potong maupun yang penyembelihannya bukan dirumah potong kesemuanya diawasi oleh petugas dari Peternakan dari Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutan Kota Sabang. Mengingat kita masih dalam kondisi darurat Virus Corona maka kami mengawasinya semakin ketat dan keseluruhan petugas Peternakan harus turun melihat langsung dan mengawasi berjalannya penjualan daging hewan sapi dan kerbau.

Lebih lanjut Jaya menjelaskan, hewan sapi maupun kerbau yang bermasalah biasanya dapat dilihat dari hatinya, apabila hatinya terkena penyakit maka hati tersebut akan kami sita karena tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat, oleh karena itu hati tersebut yang telah terkena penyakit hati atau disebut juga dengan kata lain Faciola Hepatica tidak boleh dimakan, pungkas Drh. Jaya Saputra. (Tiopan. AP)

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.