Jumat, 22 Mei 2020

4 (Empat) Hati Sapi Ditemukan Terkena Faciolosis, Pada Megang Pertama Di Kota Sabang

    5/22/2020   No comments

Hati sapi yang terkontaminasi Faciolosis atau penyakit hati pada ternak sapi di Kota Sabang
MOKI, Sabang-Hari Meugang pertama di Kota Paling Ujung Perbatasan Wilayah Indponesia Kota Sabang, ditemukan 4 hati dari 4 ternak sapi yang disembelih oleh para pedagang daging sapi musiman. Temuan ini setelah diperiksa oleh Tim Pemeriksa pemotongan ternak dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, Jum’at (22/05/20) pagi dilokasi pedagang ternak Sapi, jalan Malahayati Kuta Barat Kecamatan Sukakarya Kota Sabang.

Demikian dikatakan oleh Kadis Pertanian dan Pangan Fachry SE, MAP yang turun langsung kelokasi tempat penjualan daging yang didampingi oleh Kabid Peternakan drh. Jaya Saputra dan para Petugas Penyuluh Peternakan Dinas Pretanian dan Pangan Kota Sabang.

Fachry SE, MAP selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang memerintahkan kepada Petugas Penyuluh Peternakan untuk menyita ke empat Hati ternak sapi dan selanjutnya dimusnahkan agar tidak dikonsumsi oleh masyarakat, karena akan bisa tertular ke tubuh manusia.

Dikatakan, setiap ternak Sapi yang akan diperjual belikan dimasyarakat baik disaat hari Meugang begini maupun saat pemotongan hari hari biasa, hati ternak sapi selalu diperiksa dengan teliti oleh Penyuluh Pertanian dan seorang tenaga tekhnik lapangan seorang dokter hewan. Hal tersebut gunanya agar hati ternak sapi yang telah terkontaminasi dengan penyakit Faciola Hepatica (penyakit hati) yang dapat tertular kemanusia, tidak dikonsumsi oleh masyarakat, tukas Fahry SE. MAP.

Pada kesempatan yang sama, drh. Jaya Saputra selaku Kabid Peternakan menerangkan tentang penyakit Faciola Hepatica dan cirri cirinya dan dikatakannya, Fascioliasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Fasciola. Dua spesies Fasciola (tipe) menginfeksi manusia. Spesies utama adalah Fasciola hepatica, yang juga dikenal sebagai “cacing hati yang umum” dan “cacing hati domba.” Spesies terkait, Fasciola gigantica, juga dapat menginfeksi manusia. Ini adalah penyakit parasityang umum terjadi dan terdistribusi secara cosmopolitan

Cacing hati menular pada ternak melalui siklus hidup yang berpindah. Cacing Fasciola dewasa bertahan hidup di dalam hati ternak antara 1-3 tahun. Telur cacing akan keluar dari tubuh ternak bersama feses. Pada lingkungan lembab, telur tersebut dapat bertahan antara 2-3 bulan. Telur Fasciola hepatica menetas dalam 12 hari pada suhu 26°C, sementara telur Fasciola gigantica menetas dalam 14-17 hari pada suhu 28°C. Penetasan yang umumnya terjadi pada siang hari itu mengeluarkan mirasidium, ujar Jaya Saputra.

Lebih lanjut dikatakannya, Mirasidium memiliki rambut getar yang sangat aktif berenang di dalam air. Ia akan mencari induk semang yang sesuai, yaitu siput. Setelah mirasidium menemukan siput, rambut getarnya akan terlepas dan mirasidium menembus masuk ke tubuh siput. Dalam waktu 24 jam, mirasidium berubah menjadi sporosis. Delapan hari kemudian, sporosis tersebut akan berkembang menjadi redia.

Selanjutnya, redia akan menghasilkan serkaria dan keluar dari tubuh siput. Serkaria dapat berenang saat berada di luar tubuh siput, kemudian menempel pada benda di dalam air. Termasuk di antaranya rumput, jerami, sayuran, atau tumbuhan air lainnya. Hewan ternak akan terinfeksi ketika memakan tumbuhan atau meminum air yang terkontaminasi serkaria.
Di dalam tubuh ternak, serkaria menjadi cacing muda. Dampak infeksi ini cukup buruk. Ia bisa membuat pertumbuhan ternak terhambat, kurus, produktivitas ternak menurun, bahkan menyebabkan kematian, tukasnya pula.

Drh Jaya Saputra juga menjelaskan, meskipun selama ini hati daging ternak yang terinfeksi cacing hati aman dikonsumsi, manusia tak otomatis terhindar dari penyakit fasciolosis. Penularan penyakit ini dapat terjadi akibat penggunaan air yang tercemar serkaria Fasciola. Jika air yang terinfeksi itu diminum dalam keadaan mentah .

Dan Penularan fasciolosis oleh Fasciola hepatica dapat terjadi jika Anda mengkonsumsi hati mentah seperti dilakukan sebagian masyarakat Eropa. Hal ini ditunjukkan dalam penelitian oleh Taira N dkk yang memberi makan tikus dengan hati terkontaminasi Fasciola hepatica. Hasilnya, cacing tersebut dapat berkembang menjadi dewasa di dalam tubuh tikus. Mereka juga menerapkan penelitian yang sama pada 10 ekor anak babi, dan kesemuanya mati saat cacing berumur 14 hari di tubuh babi, jelas Kabid Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Sabang.

Mengakhiri keterangannya Jaya Saputra menerangkangkan bahwa, di Indonesia, kejadian fasciolosis bisa dikatakan jarang. Masyarakat negeri ini kurang menyukai hati serta sayuran mentah. Namun, masyarakat daerah tertentu seperti Jawa Barat harus berhati-hati. Sebab, orang Sunda terbiasa makan lalapan mentah. Sayuran yang terkontaminasi serkaria dapat menjadi media penularan cacing hati.“Hati hewan yang terkontaminasi tak akan menularkan fasciolosis karena penularan penyakit ini melalui siklus tak langsung,”

Fasciolosis tak akan menular ke manusia dengan mudah lewat konsumsi hati hewan yang terinfeksi. Hati hewan terinfeksi dibuang lebih karena masalah kepatutan. Hati hewan menjadi keras tentu tak layak dimakan. Ia berpasir karena mengalami sirosis. Fasciolosis bisa menjangkiti manusia apabila penularannya dimulai dari serkaria yang keluar dari tubuh siput.

Serkaria bisa menempel dari pupuk kandang yang diberikan ke tanaman, atau penyiraman tanaman menggunakan air sungai terkontaminasi. Masa inkubasi fasciolosis pada manusia sangat bervariasi. Ia dapat berlangsung dalam 6 minggu hingga 3 bulan. Gejala klinis paling menonjol adalah anemia, demam dengan suhu badan antara 40-42° C, nyeri di bagian perut, dan gangguan pencernaan. Dalam kasus kronis, fasciolosis dapat mengakibatkan terbentuknya batu empedu, sirosis hati, dan kanker hati, pungkas drh Jaya Saputra. (Tiopan. AP)

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.