Minggu, 21 Juni 2020

Tingginya Tingkat Perceraian di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya)

    6/21/2020   No comments

MOKI, Aceh-Perceraian antara Suami Isteri yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat Daya pada dua tahun belakangan ini (thn 2018-2020), sebanyak lebih 200 kasus perkara perceraian. Dari keseluruhan perkara, 90 % kasus perceraian permintaan dari Isteri karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para Suami, sehingga para Isteri mengambil langkah demikian.

Hal ini dikatakan oleh Nurma, salah seorang ibu rumah tangga yang menyaksikan perceraian keponakannya di Pengadilan Syariah Blang Pidi Aceh Barat Daya. Dia juga menyesalkan terjadinya perceraian anak keponakannya dikarenakan tindak kekerasan yang dilakukan suami dari kepokannya, hal ini dilakukan suaminya agar suami ponakannya dapat melakukan perselingkuhan dengan wanita lain.

Nurma juga menjelaskan bahwa, tingginya tingkat perceraian yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat Daya, sejak tahun 2018 sampai dengan sekarang ini lebih dari 200 kasus, merupakan kasus perceraian tertinggi di Aceh. Dari keseluruhan kasus yang terbanyak adalah kekerasan terhadap isteri, hal ini sudah mencapai tahap tingkat sangat meprihatinkan.

Kepada Dinas ataupun Badan dan lembaga lainnya yang berkaitan dengan Pemberdayaan Wanita dan Kekerasan anak, agar segera dapat terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan penyuluhan penyuluhan tentang hak wanita, dan juga mengenai terjadinya tindak kekerasan kepada wanita dan anak. Karena perbuatan tersebut dapat dipidana sesuai dengan Undang undang yang berlaku, ujar Nurma atau panggilan akrabnya Cek Ma.

Lebih lanjut Nurma menjelaskan, perlu diketahui bahwa dampak dari pada perceraian adalah anak. Akibat dari pisahnya Ayah dan Ibu mereka, yang sudah pasti terguncangnya perasaan si anak karena Ibu dan Ayahnya sudah tidak lagi satu atap. Pertanyaan pertanyaan yang ada dibenak sianak tidaklah mungkin dipaparkan secara gamblang oleh kedua orangtua mereka, oleh karenanya perkembangan sianak kedepannya sudah pasti tidaklah sama dengan anak anak lainnya yang masih memiliki orangtuanya, jelas Cek Ma.

Bisa kita lihat bersama efek dari pada perceraian ini kedepannya, apakah anak anak yang dimiliki para wanita yang telah meminta perceraian kepada suaminya dapat serupa dengan anak yang masih utuh rumah tangga orang tua sianak. Dikarenakan kekerasan suami yang mau menang sendiri setiap permasalahan rumah tangga, dan begitu juga karena keegoisan seorang istri sehingga berani melawan suami dan mempertaruhkan masa depan anaknya sendiri.

Kalaulah seluruh komponen yang menamakan badan atau lembaganya mengurus masalah Peranan Wanita dan Kekerasan anak, dapat selalu mensosialisasikan program program mereka kepada masyarakat secara priodik, maka akan dapat mengurangi tingkat perceraian itu sendiri, pungkas Nurma alias Cekma.(SN)

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.