Selasa, 14 Juli 2020

Bupati Nagekeo Menutup Acara Pelatihan Anyaman Bambu di Desa Totomala, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo

    7/14/2020   No comments

MOKI, Nagekeo-Kepala Bidang Industri, Dinas Koperindag Kabuoaten Nagekeo, Rita Astuti melaporkan: "Kegiatan ini diselenggarakan oleh Diskoperindag kerja sama Dekransada Kabupaten Nagekeo tanggal 7 sampai dengan 10 Juli 2020. Peserta berjumlah 20 orang,  telah mengikuti pelatihan sejak awal hingga selesai.

Peserta mendapat ilmu dasar tentang proses  sejak penyediaan bahan baku, setengah jadi hingga finishing menjadi bahan jadi, seperti kotak tisu, tempat bunga, dll.

Maria Adriana No'o selaku Ketua Kelompok Dasawisma Sumber Baru, mewakili peserta menyampaikan pesan; "Kami dilatih memilih bambu. Bambu tidak boleh terlalu muda dan tidak boleh terlalu tua. Waktu kegiatan kami harapkan bisa lebih, tapi hanya 4 hari. Terima kasih bapa Bupati yang telah memberi perhatian kepada kami untuk ikut pelatihan anyaman menggunakan bahan bambu. Selama ini kami hanya anyam gunakan daun lontar dan gebang".

Lebih lanjut Ibu Maria Adriana mengatakan "Kendala waktu sangat kurang. Karena latihan rumit, dan alat pun kurang lengkap, kami sering saling tunggu. Harapan ke depan, perlu ada kelanjutan. Kami mohon bantuan modal untuk kelompok kami dalam meningkatkan keterampilan menganyam bambu. Terima kasih juga kepada pelatih, bapa Markus yang telah membimbing kami selama ini".  

Bupati Don dalam Sambutan Penutupan Acara menyampaikan; "Sedianya bisa 7 hari, tapi 4 hari. Covid, menyebabkan anggaran kita dipotong. Tapi ada rahmat lain. Ada peluang 30 ha lahan usaha cabe untuk Anakoli. Keputusan lain, ada  APBDes yang bisa menjawab kebutuhan ibu-ibu. Alat bantu, nama apa, bagusnya seperti apa, supaya bisa dibelanjakan. Supaya kelompok bisa lanjut, cepat bergerak. Kita sudah terbiasa anyam pakai daun (gebang dan lontar). Sekarang pakai bahan bambu aur, peri atau bhetung.

Produk apa yg dibutuhkan pasar, kita juga harus survey sendiri di pasar. Di sana kita lihat. Orang butuh kotak sampah. Kita siapkan itu. Harus ada kemampuan menerjemahkan kebutuhan pengunjung pasar. Kita melatih jari jemari kita supaya lebih piawai lagi. Jual lombok sekaligus dengan koko (wadahnya).

Pasar bisa kita dikte. Sama seperti pasar dikte kita untuk tinggalkan ipe (bere) ke tas plastik. Tee re'a (tikar daun pandan) ke tikar plastik. Sekarang kita harus bisa anyam te'e (tikar) dari bo (gebang). Anak sekolah latih jari. Bukan hanya latih jari dengan handphone tapi anyaman".

Terkait harga, Bupati menjelaskan: "Hitung betul harga pokok produksinya (HPP). Misalnya, para penenun di Gero Boawae, mereka sudah hitung, dalam 10 hari bisa hasilkan 16 lembar. Dengan demikian harga sudah bisa dihitung. Ternyata 1 lembar kain bisa dapat 90 - 120 ribu. Artinya kalau terjual dengan harga Rp 200 ribu, sudah untung.

Saya minta hitung betul HPP, agar tidak "ndoy ghewo" (bersih keras) dengan harga yang ada. Baru kemudian hitung kecepatan memproduksi hasilnya".

"Kita mendapat tawaran usaha cabe atau bawang dengan lahan 30 ha. Kepala desa bisa konsolidasikan lahan warga yang ada. Manfaatkan dana desa untuk usaha produktif.  Apalagi kita punya potensi sumber air "ae dako" dan juga sumur bor. Pipa-pipa yang sudah tidak bisa dilewati air, bongkar  dan pasang lagi untuk bisa berfungsi".

"Satu blok 4 ha. Pagar 4 ha itu, Desa keluarkan dana desa, buat pagar kawat. Orang-orang dalam 1 blok bisa kerja sama dan sama-sama disiplin. Melalui Bumdes, hasil lombok bisa kembali ke desa. Mukjizat zaman modern hanya ada pada orang yang siap ketika kesempatan itu datang. Pagar pembatas, duitnya besar. Saya lagi pikir agar uang tidak besar, supaya bisa merata di semua petani dan peternak di Nagekeo.
 
Kita atur begini. Buat blok di 200 ha, tidak tawar menawar. Gang2 dlm kapling, ada pakan ternak, baik sisa limbah pertanian maupun rumput2 yg merambat di pagar. Jalan tani diperbaiki bertahap".

Terhadap para Kepala Desa juga Bupati Nagekeo berharap agar pembangunan lebih memprioritaskan pengentasan kemiskinan di Desa. 

"Jadi pemimpin jangan bangga kalau orang miskin masih banyak. Tugas kita adalah bagaimana mengurangi jumlah orang miskin. Camat, kepala desa, masuk betul ke keluarga. Cek peni wesi (ternak), toni mula (tanaman), wedu tina (hewan gembala). Suatu waktu akan seperti petani di Selatan. Cek apa persoalan dia. Apa budaya ternak? Kebiasaan sehari-hari, apakah menganyam, menenun?

Bantuan kita, nanti langsung menuju pada apa yang dia rasa kurang. Harus "pinpoint" (tepat), supaya dia keluar dari kemiskinan. Tanah la'e sa'o (lahan untuk bangun rumah) saja tidak ada, apalagi uma (kebun). 

Saya mau bicara dengan ulayat. Kalau ulayat sudah tidak mampu kasih lahan untuk anggotanya, saya tidak akan omong lagi peni wesi, toni mula. Saya minta keluarga datang ke ulayat tetangga di Utara sini. Antar berapa orang ke ulayat di Utara. Pemerintah fasilitasi. Kita gunakan pola-pola hubungan kerabat antar-ulayat. Bukan saja resetlement model pemerintah. Untungnya ada 2 : anggota ulayat di Utara bertambah, dan warga pun menyebar relatif merata. Tidak hanya tunggu org "dhadhi ana" (melahirkan keturunan).

Penyelesaian budaya. Kita hentikan model-model resetlement yang terkesan menjadi enclave (daerah kantong) baru. Pemukiman seperti eksklusif, terpisah dari penduduk lokal. Infrastruktur pendukungnya, nanti pemerintah masuk ambil peran.

Kepala Keluarga miskin di Utara sini bukan soal tanah, tapi soal tidak cukup pendampingan untuk toni mula, ngana su, seda mane (menanam, menganyam, menenun). Kalau ada yang mau bergabung (ke Ulayat bagian Utara), kita sudah siap.


Markus Lina, asal kampung Tololela, Desa Manubhara Ngada. Sebagai instruktur/ pelatih anyaman bambu, beliau juga berpendapat,"Flores jarang anyam bambu. Kebanyakan anyam dengan bahan dari daun. Ketika kita pilih bambu, kami pingin latih dari awal. 
Kita pakai bahan kurang matang. Lembar anyaman belum terlalu bagus. Mulai dari teknik potong dan belah". 

Lebih lanjut Markus katakan,"Supaya produk bisa bermacam-macam, harus latih halus dulu. Tiga hari ini luar biasa. Sudah biasa dengan daun. Sekarang dengan bambu. Mama-mama tidak tahu karena pola dan motif sudah beda. Latihan sejak pagi hingga jam 21.00 malam. Semangat belajar mama-mama ini luar biasa".

"Saya bisa sebut beberapa orang yang saya anggap mampu dan bisa berkembang lebih cepat. Mereka adalah mama Yohana Modhe, om Don dan om Peter. Mereka paham setelah diberi arahan. Anyam mulai dari sudut ini, angkat berapa, lepas berapa, mereka mengerti. Masih ada kekurangan. Lem sambung masih maring-miring. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi semangat belajar dan ingin tahunya sangat tinggi. Itu modal yang baik,"ujarnya

Reporter: Fardin Bay

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.