Selasa, 12 Januari 2021

PEMBELAJARAN DARING BERBASIS GOOGLE CLASSROOM TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS VI SDN WARUREJO KECAMTAN BALEREJO KABUPATEN MADIUN TAHUN 2020

    1/12/2021   No comments

HARTINI, S.Pd.SD

MOKI, Aplikasi google classroom sebagai salah satu bentuk aplikasi learning management system yang dipilih paling banyak oleh mahasiswa pendidikan biologi karena dirasakan mudah untuk digunakan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui l) respon mahasiswa dalam kemudahan mengakses aplikasi google classroom, 2) pemahaman materi dalam pembelajaran dengan menggunakan google classroom, 3) keefektifan penggunaan aplikasi google classroom dalam pembelajaran daring, 4) Penggunaan google classroom dalam praktikum biologi. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif menggunakan teknik survey. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket dan wawancara secara online yang diberikan kepada Siswa Kelas VI SDN Warurejo  minimnya pengetahuan tidak dapat mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan baik, serta kurangnya ketelitian dalam menyimak penjelasan guru saat menyelesaikan persoalan matematika. Digunakan pembelajaran blended learning yang dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat pengaruh pembelajaran blended learning menggunakan google classroom terhadap pemahaman konsep matematis pada peserta didik kelas VI SDN Warurejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun Tapel 2020/2021.

Metode penelitian ini adalah quasi eksperimen design. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain posttest only control design. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah test berupa soal. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik dengan model pembelajaran blended learning menggunakan google classroom terdapat pengaruh terhadap pemahaman konsep matematis.

Kata Kunci: e- learning, Pemahaman Konsep Matematis Bilangan bulat.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teknologi yang sedang berkembang saat ini terdapat berbagai manfaat dan bekal dalam menuju masyarakat yang modern, hendaknya dimanfaatkan secara optimal salah satunya adalah untuk perkembangan pendidikan. Teknologi pendidikan selalu digunakan untuk kesejahteraan dan kenyamanan manusia.  Sebagai manusia yang diberikan otak untuk berpikir, manusia butuh pendidikan untuk proses didalam kehidupan. Pendidikan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang membutuhkan suatu konsep. Suatu konsep tersebut adalah yang membentuk pendidikan langsung ke bentuk digital, yang dikenal dengan sebutan e-Learning. Berkembangnya penggunaan e-Learning di pendidikan terbukti bahwa konsep ini sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia.  E-learning yang mulai berkembang saat ini adalah Blended Learning, yang merupakan pembelajaran secara online dan langsung di kelas untuk mengisi materi yang belum disampaikan pada proses pembelajaran dan dapat digunakan untuk pemberian tugas. Dalam proses pelaksanaannya, dengan keterlibatan dan partisipasi untuk proses belajar, Blended Learning dapat meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik . Blended learning adalah gabungan antara pembelajaran langsung dan pembelajaran berbasis internet menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Blended learning tidak hanya dilakukan secara online yang mengganti proses belajar langsung di kelas, akan tetapi untuk mengisi dan mengatasi materi yang tak tersampaikan pada proses belajar di kelas. Proses pembelajaran butuh media yang pas, seperti media yang didukung. Blended Learning merupakan media pembelajaran sperti Google Classroom. Google Classroom ialah layanan yang menggunakan Internet yang diadakan oleh Google system e-Learning. Google Classroom adalah salah satu bentuk aplikasi yang dapat diterapkan di Indonesia, karena Google Classroom merupakan aplikasi ruang kelas terstruktur dalam proses pembelajaran yang ada saat ini.  Google Classroom dapat di download di Handphone Android peserta didik. Guru dapat menambahkan peserta didik kedalam Google Classroom tesebut, hanya dengan beberapa menit saja. Pemberian tugas pun menghemat waktu karena guru memberikan tugas tanpa kertas, hanya memasukkan kedalam Google Classroom. Guru pun hanya memeriksa dan menilai di satu tempat.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada salah satu Guru Kelas V SDN Warurejo Bahwa siswa Kelas VI tahun ini sangat kurang mampu dalam Mupel Matematika di karenakan Pandemi , yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2020, diperoleh bahwa di sekolah tersebut pemahaman konsep matematisnya masih rendah dikarenakan kurangnya minat dalam memahami materi yang diajarkan, minimnya pengetahuan saat di Sekolah Dasar maka pembelajaran di SDN Warurejo secara langsung tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, serata kurangnya ketelitian dalam menyimak penjelasan guru saat menyelesaikan persoalan matematika. Di samping itu, model yang digunakan dalam pembelajaran matematika pun kurang bervariasi dan interaktif, karena guru dituntun untuk inovatif untuk memilih model pembelajaran. Kenyataannya model guru gunakan dalam mengajar yaitu teknik ceramah, Tanya jawab, diskusi, eksperimen, kerja kelompok, dan permainan. Guru tersebut pun tertarik pada pembelajaran berbasis E-learning karena mempermudah anak dalam belajar, dan zaman sekarang zaman teknologi, dimana peserta didik dituntut untuk bisa menggunakan teknologi. Tetapi hasil pembelajar yang diberikan menggunakn pembelajaran yang guru pakai saat ini, cukup memuaskan tetapi beberapa materi banyak hasil peserta didik yang masih rendah dikarenakan kurangnya waktu ketika pemberian materi, dan kurangnya minat belajar untuk memperhatikan guru menjelaskan.

Ketika guru mengikuti kemampuan peserta didik tidak akan cukup waktu KBM berlangsung sehingga proses belajar mengajarpun tidak sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) atau kalender pendidikan. Kemungkinan sampai Ujian Tengah Semester ( UTS ) pun masih ada materi yang tertinggal. Kurangnya minat belajar pada peserta didik, ketika peserta didik belajar di jam terakhir maka konsentasi peserta didik sudah tidak fokus, bahkan mereka terlihat memperhatikan guru tetapi mata dan pikiran mereka tidaklah memahami materi. penerapan pembelajaran Blended Learning berbasis berbagai LSM yang ditinjau dari motivasi belajar, hasil belajar, prestasi belajar dan kemandirian peserta didik yang terdapat peningkatan setelah diterapkanya pembelajaran Blended Learning. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis online dapat membantu proses pembelajaran dikelas. Guru memiliki waktu banyak untuk memberikan tugas kepada peserta didik diwaktu yang sama tetapi bisa dengan ditempat yang berbeda.

Hasil dari wawancara, observasi, angket, dan penelitian relevan diatas, maka untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan, bahwa pembelajaran Blended Learning berpengaruh baik pada pemahaman konsep peserta didik. Dilihat dari pendapat diatas bawah pemahaman konsep menjadi tolak ukur untuk tercapainya keberhasilan dalam menyelesaikan persoalan matematika. Oleh sebab itu, peneliti berinisiatif meneliti tentang: Pengaruh Pembelajaran Blended Learning Menggunakan Aplikasi Google Classroom Terhadap Pemahaman Konsep Peserta Didik Kelas VI SDN Warurejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun.

B. Pembatasan Masalah

Pembelajaran Blended Learning menggunakan Google Classroom dan pembelajaran e-Learning menggunakan Google Classroom terhadap pemahaman konsep pada materi Bilangan Bulat peserta didik kelas VI SDN Warurejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2020/2021 .

C. Rumusan Masalah

Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Apakah ada pengaruh pembelajaran Blended Learning menggunakan Google Classroom terhadap pemahaman konsep matematis peserta didik SDN Warurejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun?”

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah “ Mengetahui pengaruh pembelajaran Blended Learning menggunakan google classroom terhadap pemahaman konsep peserta didik SDN Warurejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun”


BAB II 

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pembelajaran E-Learning

E-learning adalah teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Fasilitas internet, e-learning tidak tergantung pada pengajar, karena akses informasi (knowledge) lebih luas dan lengkap, sehingga peserta didik dapat belajar kapan saja dan dimana saja. E-learning mempunyai ciri-ciri yaitu:

a) Konten yang relevan ;

b) Metode instruksional;

c) Elemen-elemen media;

d) Pembelajaran langsung yang didesain untuk pembelajaran mandiri berpusat pada peserta didik.

e) Pemahaman dan keterampilan yang terkait dengan tujuan pembelajaran; 

E-learning tidaklah sama dengan pembelajaran langsung. E-learning memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

a) Interactivity (interaktivitas)

b) Independency (kemandirian)

c) Accessibility (aksesibilitas)

d) Enrichment (pengayaan)

Manfaat e-learning dari perspektif pendidik, diantaranya:

a) Meningkatkan materi.

b) Strategi konsep pembelajaran yang baru dan inovatif efisiensi.

c) Pemanfaatan aktivitas akses pembelajaran.

d) Sumber daya yang terdapat pada internet.

e) Menerapkan materi pembelajaran menggunakan multimedia.

f) Pembelajaran lebih luas dan multi sumber belajar.

Manfaat dari perspektif peserta didik, yaitu:

a) Komunikasi dengan pendidik dan peserta didik yang meningkat.

b) Materi pembelajaran yang tersedia yang dapat diakses.

c) Informasi dan materi terorganisasi dalam satu wadah materi pembelajaran online yang dapat berbagi.

Konten merupakan obyek pembelajaran yang menjadi salah satu parameter keberhasilan e-learning melalui jenis, isi, dan bobot konten. Sistem e-learning harus dapat:

a) Konten yang bersifat teacher-centered

b) Konten yang bersifat student-centered

c) Contoh kerja (work example)

d) Konten berupa games edukatif

2. Pembelajaran Blended Learning

Kombinasi antara pembelajaran langsung dan pembelajaran berbasis internet yang berbantuan teknologi mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan merupakan pembelajaran blended learning Pembelajaran pada pembelajaran Blended learning bertujuan menghadirkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Karakteristik pembelajaran tradisional dan lingkungan pembelajaran elektronik di padukan dalam blended learning. Blended Learning merupakan pembelajaran berbasis online yang mengkombinasikan pembelajaran dikelas. Pembelajaran tersebut dapat dilakukan diwaktu yang sama dan tempat berbeda. Pembelajaran ini memperkuat pembelajaran didalam kelas dengan memanfaat kan pembelajaran teknologi masa kini. 

Blended Learning adalah gabungan pembelajaran langsung dan pembelajarann online. Peserta didik harus mencari gaya belajar yang aktif sesuai dengan dirinya. Pembelajaran tersebut mengggunakan pengembangan teknologi pendidikan ini akan memperkuat proses pembelajaran langsung.. 

Karakteristik-karasteristik pembelajaran tersebut sebagai berikut:

1. Sumber suplemen untuk program belajar.

2. Tranformative tingkat praktik pembelajaran didukung oleh perangkat

pembelajaran secara mendalam.

3. Pandangan menyeluruh tentang teknologi untuk mendukung pembelajaran.

Adapun dalam karakterisik tersebut, pembelajaran ini memperkuat pembelajaran langsung melalui perangkat pembelajaran virtual yang dapat membantu pembelajaran semakin efektif dan efesien.

Menurut Carman, ada lima kunci untuk melaksanakan pembelajaran tersebut, yaitu:

1. Live Event, yaitu pembelajaran langsung dalam waktu dan tempat yang sama ataupun waktu sama tapi tempat berbeda.

2. Self-Paced Learning, yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar kapan saja, dimana saja secara online.

3. Collaboration, yaitu mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar.

4. Assessment, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen online dan offline baik yang bersifat tes maupun non-tes.

5. Performance Support Materials, pastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline maupun online.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

Blended Learning adalah pembelajaran dua arah yang memanfaatkan internet.

Kelebihan Blended Learning ini adalah sebagai berikut:

1. Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri dengan memanfaatkan materi - materi yang tersedia secara online.

2. Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan guru atau peserta didik lain di luar jam tatap muka.

3. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik di luar jam tatap muka dapat dikelola dan dikontrol dengan baik oleh guru.

4. Guru dapat menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet.

5. Guru dapat meminta peserta didik membaca materi atau mengerjakan tes yang dilakukan sebelum pembelajaran.

6. Guru dapat menyelenggarkan kuis, memberikan balikan, dan memanfaatkan hasil tes dengan efektif.

7. Peserta didik dapat saling berbagi file dengan peserta didik lain.

Noer mengemukakan bahwa ada beberapa kekurangan dari pembelajaran Blended Learning diantaranya sebagai berikut:

1. Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung.

2. Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta didik, seperti komputer dan akses internet.

3. Kurangnya pengetahuan sumber daya pembelajaran (peserta didik, guru, dan orang tua) terhadap penggunaan teknologi.

Perangkat pembelajaran berbasis Blended Learning adalah Internet untuk kegiatan online, program pembelajaran elektronik (e-learning program) dan isi pelatihan. Salah satunya adalah Google Classroom. Google Classroom adalah layanan berbasis Internet yang didesain untuk membantu guru membuat dan membagikan tugas kepada peserta didik.

1. Google Classroom

Google Classroom (atau dalam bahasa Indonesia yaitu Ruang Kelas Google) adalah aplikasi untuk menemukan jalan keluar atas kesulitan dalam membuat dan membagikan setiap penugasan tanpa kertas. Perangkat lunak ini telah diperkenalkan sebagai keistimewaan Google Apps for Education lalu itu disudahi dengan pengeluaran kepada khalayak sejak 12 Agustus 2014 Aplikasi ini menyediakan ruang diskusi sesame peserta didik dan ruang diskusi pribadi antar peserta didik dan guru. Pemberian tugas tanpa kertas mempermudah guru dalam mengoreksi dan tidak terlalu menghabiskan kertas yang akan digunkan untuk test atau semacamnya. 

Peserta didik dapat mengunduh Google Classroom pada link http://classroom.google.com dan Play stote atau Google Play dengan kata kunci Google Classroom. Aktifkan email terlebih dahulu , Bergabung pada suatu kelas dapat memasukan kode kelas (minta kode dari guru tersebut) ataupun secara otomatis sudah di invite oleh guru yang bersangkutan.

2. Pemahaman Konsep Matematis

Menurut Wiharno bahwa kemampuan pemahaman matematik merupakan suatu kekuatan yang harus diperhatikan dan diperlakukan dalam proses dan tujuan pembelajaran matematika, terlebih lagi untuk memperoleh pemahaman matematik pada saat pembelajaran, hal tersebut hanya bisa dilakukan melalui pembelajaran dengan pemahaman. Melalui pengetahuan dan pemahaman, peserta didik dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Menurut Kilpatrick, Swafford, & Findell bahwa pemahaman konsep (conceptual understanding) adalah kemampuan dalam memahami konsep, operasi dan relasi dalam matematika. 

Bahkan pendapat Kilpatrick, dkk tentang pemahaman konsep tersebut memiliki indikator yaitu:

1) Menyatakan ulang sebuah konsep yang telah dipelajari.

2) Mengklasifikasikan objek-objek.

3) Menerapkan konsep secara algoritma.

4) Menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representasi matematika.

5) Mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal matematika).

Pengertian pemahaman menurut Bloom adalah kemampuan menangkap pengertian suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang dapat dipahami, mampu memberikan interprestasi dan mampu mengklasifikasikannya. Berdasarkan uraian tersebut pemahaman konsep matematis adalah kemampuan mendeskripsikan suatu materi yang dapat dipahami tidak hanya sekedar hafal.

Pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap konsep matematika menurut NCTM dapat dilihat dari kemampuan peserta didik dalam

1. Menyatkan ulang suatu konsep secara verbal dan tulisan

2. Membuat contoh dan bukan contoh

3. Menggunakan model, diagram dan simbol-simbol untuk merepresentasikan suatu konsep

4. Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lainnya

5. Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep

6. Menggunakan sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep

7. Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.

Maka pemahaman konsep dalam melakukan pemecahan masalah menjadi modal yang cukup penting dalam pembelajaran matematika. Menurut Hamzah untuk menunjukkan indikator pemahaman konsep adalah:

1. Menyatakan ulang sebuah konsep.

2. Mengklasifikasi obyek-obyek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya).

3. Memberi contoh dan non- contoh dari konsep.

4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis

5. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.

6. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

7. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

Menurut John Indikator-indikator pemahaman konsep matematika yaitu :

a. Penguasaan pemahaman konsep sebagai bukti aspek yang mendasar dalam matematika.

b. Membuat dan menyelidiki dugaan-dugaan matematika

c. Mengevaluasi argument dan bukti matematis

d. Menggunakan berbagai macam penguasaan

Dengan demikian dapat disusun suatu instrumen penilaian yang sengaja hanya melatih dan mengukur satu indikator, dua indikator serta mengukur dua atau lebih indikator secara bersamaan.


Tabel 2. 1 Rubrik Penskoran Pemahaman Konsep

Blended Learning mampu menciptakan hubungan positif antara model pembelajaran dengan peserta didik, sehingga peserta didik dapat mempelajari materi yang belum dipahami dengan mengakses materi dan bisa bertanya kapan saja dimana saja melalui jejaring sosial yang termuat dalam media web berupa blog. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis online dapat membantu proses pembelajaran dikelas. Guru memiliki waktu banyak untuk mengakses materi yang diberikan kepada peserta didik diwaktu yang sama tetapi bisa dengan ditempat yang berbeda.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini termaksuk jenis penelitian quasi eksperimen design yang digunakan untuk mengetahui terdapat pengaruhnya pada pemahaman konsep matematis peserta didik menggunakan Pembelajaran Blended Learning menggunakan aplikasi Google Classroom, pembelajaran e-learning melalui Google Classroom dan konvensional. Langkah- langkah pembelajaran dilihat tabel 3.1.

Tabel 3. Langkah- langkah Pembelajaran


Desain eksperimen yang peneliti gunakan posttest only control design, kemudian ketiga kelas yang diteliti diberikan perlakuan yang berbeda. Setelah ketiga kelas tersebut diberikan perlakuan masing-masing, ketiga kelas tersebut diberikan tes akhir yaitu tes pemahaman konsep peserta didik.

B. Teknik  Pengumpulan Data

1. Tes

Tes berguna untuk mengetahui dan melihat hasil belajar pada aspek pemahaman konsep matematis peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui tes dapat diketahui prestasi belajar yang akan dicapai peserta didik. Tes yang akan diberikan merupakan soal uraian (essay). 

Dokumentasi

Dalam penelitian ini, teknik ini digunakan peneliti unuk mendapatkan data umum sekolah, daftar nama peserta didik kelas VI SDN Warurejo Kecamtan Balerejo kabupten Madiun. 


BAB IV

HASIL PEMBAHASAN

A. Pembahasan

SDN Warurejo Kecamatan Balerejo kabupaten Madiun adalah tempat penelitian untuk melihat apakah terdapat pengaruh model pembelajaran blended learning menggunakan google classroom terhadap pemahaman konsep matematis pada peserta didik. Materi yang diajarkan adalah Bilangan Bulat. Model pembelajaran blended learning menggunakan google classroom sebanyak 5 kali pertemuan, model pembelajaran elearning sebanyak 5 kali pertemuan dan pembelajaran langsung sebanyak 5 kali pertemuan. Peserta didik kelas VI sebanyak 26 Siswa. 

Pada hari Senin, 03 Agusutus 2020 penelitian pertama dengan menggunakan google classroom secara online pada pembelajaran blended learning untuk menjelaskan materi dan berdiskusi .

Aplikasi google classroom, didalam aplikasi terdapat Materi dalam bentuk rangkuman, PPT, PDF, dan Video, Kuis yang dibagi menjadi 3, serta soal Posttest. Dalam pertemuan pertama ini Guru mengarahkan peserta didik untuk memahami materi 1 dan video 1 pada sub bab materi “Bilangan Bulat dalam garis Bilangan ” yang peserta didik berdiskusi didalam kolom komentar pada aplikasi google classroom. Setelah peserta didik paham, penulis meminta peserta didik untuk mengerjakan kuis 1 dan hasilnya di uploud di aplikasi google classroom.

Tahap kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Agustus 2020. Tahap kedua ini, Guru meminta peserta didik memahami materi 2 dan video 2 tentang “bilangn Bulat yang ada pada gaaris bilangn ” Pembelajaran tersebut secara online dilakukan dengan aplikasi google classroom untuk mengakses dan berbagi materi serta berdiskusi.

Tahap ketiga dilaksanakan pada hari Senin, 10 Agustus 2020. Guru meminta peserta didik melanjutkan memahami materi 2 dan video 2 tentang “Membandingakan Bilangan Bulat ” pada pertemuan kedua dan proses pembelajaran selama di dalam kelas didiskusikan offline. Guru meminta peserta didik untuk mengerjakan Kuis 2. Peserta didik telah selesai mengerjakan kuis 2 lalu di uploud di aplikasi google classroom.

Tahap keempat dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2020. Tahap keempat ini, Guru  meminta peserta didik memahami materi 3 dan video 3 tentang “menentukan kedudukan posisi garis pada sumbu dan sumbu ” dan proses pembelajaran selama di dalam kelas sepenuhnya online didiskusikan melalui aplikasi google classroom.

Tahap kelima pertemuan terakhir yaitu pada tanggal 17 Agustus 2020. Soal-soal posttest yang diberikan kepada peserta didik berkenaan dengan kemampuan pemahaman konsep matematis. Mengevaluasi pemahaman konsep peserta didik untuk

mendapat perlakuan model pembelajaran blended learning dengan menggunakan aplikasi google classroom.

Tahap pertama kelas e-learning dilakukan pada hari Selasa, 04 Agustus 2020 dengan menggunakan model pembelajaran e-learning menggunakangoogle classroom secara online untuk menjelaskan materi dan berdiskusi. Proses awalan sama dengan eskperimen satu.

Tahap kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 7 Agustus 2020. Pertemuan ini, Guru meminta peserta didik memahami materi 2 dan video 2 tentang “Membandingkan Bilangan Bulat ” dan proses pembelajaran selama di dalam kelas sepenuhnya online didiskusikan melalui aplikasi google classroom.

Tahap ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 14 Agustus 2020 dikarenakan hari selasa tanggal 11 Agustus 2020. Proses pembelajaran melalui google classroom dilanjutkan kembali setelah semua peserta didik sudah tidak mengalami kesulitan lagi. Pada pertemuan ketiga ini, Guru  meminta peserta didik melanjutkan memahami materi 2 dan video 2 tentang “Operasi hitung bilangan bulat ” pada pertemuan kedua dan proses pembelajaran selama di dalam kelasdidiskusikan secara online pada aplikasi google classroom.

Tahap keempat dilaksanakan pada hari Selasa, 18 Agustus 2020. Pertemuan ini, penulis meminta peserta didik memahami materi 3 dan video 3 tentang “Operasi hitung bilangan bulat ” dan proses pembelajaran selama di dalam kelas sepenuhnya online didiskusikan melalui aplikasi google classroom.

Tahap kelima di kelas e-learning adalah pertemuan terakhir yaitu Jumat, 21 Agustus 2020. Peserta didik secara individu mengerjakan soal-soal posttest kemampuan pemahaman konsep. Mengevaluasi pemahaman konsep peserta didik setelah untuk mendapat perlakuan model pembelajaran e-learning dengan menggunakan aplikasi google classroom.

Hari senin, 3 Agustus 2020 adalah hari pertama penelitian menggunakan model pembelajaran langsung. Guru menjelaskan materi Bilangan Bulat terkait dengan membandingkan Bilangan bulat, mengurutkan bilangan bulat.

Tahap kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Agustus 2020. Guru mempersilahkan peserta didik untuk mencatat semua informasi mengenai materi Bilangan bulat. Guru mempersilahkan peserta didik untuk bertanya mengenai materi Bilangan bulat permasalahan terkait dengan membandingkan bilangan bulat yang belum dipahami. Setelah proses pembelajaran selesai maka Guru menutup pertemuan melalui Zoomeeting.

Tahap ketiga dilaksanakan pada hari Senin, 10 Agustus 2020. Guru mempersilahkan peserta didik untuk mencatat semua informasi mengenai materi operasi hitung bilangan bulat  yang telah dijelaskan Guru lewat Zoomeeting. Setelah proses pembelajaran selesai maka Guru memberikan tugas dan menutup pertemuan.

Tahap keempat dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2020. Guru menjelaskan kembali materi Bilangan Bulat dan permasalahan terkait dengan menentukan operasi Hitung bilangan Bulat berupa soal cerita . Setelah proses Zoomeeting Guru  menutup pertemuan dan memberikan penugasan Uji Kompetensi pada LKS.

Hari Senin, 17 Agustus 2020 pertemuan terkahir pada kelas kontrol. Pada pertemuan terakhir penulis akan memberikan tes akhir (posttest). Soal posttest yang diberikan tersebut berupa soal uraian untuk mengetahui terdapat atau tidaknya kemampuan pemahaman konsep matematis yang dimiliki peserta didik

Mendapatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata model pembelajaran blended learning menggunakan google classroom, model pembelajaran e-learning menggunakan google classroom, dan pembelajaran langsung terhadap pemahaman konsep matematis peserta didik. Kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik dengan model pembelajaran blended learning menggunakangoogle classroom terdapat pengaruh terhadap pemahaman konsep matematis dan rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik pada ketiga kelompok yaitu kelompok eksperimen satu, eksperimen dua ataupun kelompok kontrol terdapat minimal 2 Kelompok belajar yang berbeda, antara model pembelajaran blended learning dengan model pembelajaran langsung dan model pembelajaran e-learning dengan model pembelajaran langsung.

Seiring berjalannya perkembangan IPTEK dalam bidang pendidikan dapat meningkatkan kualitas model pembelajaran langsung dikelas dengan model pembelajaran berbasis teknologi. Instrumen yang digunakan yaitu Pilihan  ganda utuk mempermudah penilaian dalam Googleformulir. Soal berupa quiz dengan jumlah 10 soal dengan skor penilaian 1 x 10 = 100.

Penggunaan aplikasi yang sama yaitu google classroom, soal Pilihan ganda dengan tingkatan yang sama, serta pemahaman peserta didik dengan teknologi handphone yang memadai. Sedangkan  pembelajaran tersebut berbeda dengan pembelajaran langsung ini dikarenakan pembelajaran yang terfokus pada buku cetak saja, tidak ada sumber pembelajaran yang banyak seperti video, ppt, pdf, dan lain-lain. Peserta didik terpaku hanya dengan apa yang diberikan guru saja, tidak dituntut untuk mendiri mengakses sumber pembelajaran dimanapun kapan pun dengan materi yang sama. Maka di SDN Warureo kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun  dapat menggunakan pembelajaran e-learning.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Aplikasi GoogleClass, Zoom dan Whatsapp Group menawarkan kemudahan dan fleksibilitas di dalamnya. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan lebih efektif apabila individu, khususnya Warga Belajar dapat mengalaminya sendiri, bukan hanya menunggu materi dan informasi dari Guru tetapi berdasarkan usaha sendiri untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru dan kemudian mengintegrasikannya dengan pengetahuan dan keterampilan. Aktivitas pembelajaran yang dapat diimplementasikan ketika menggunakan aplikasi Zoom, GC  dan Quiz Googleform sebagai media pembelajaran daring diantaranya adalah download, upload, assignment dan forum diskusi. Beberapa hambatan yang dialami Guru dan Peserta didik umumnya adalah kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai manajemen pembelajaran, kurang stabilnya koneksi jaringan internet dan mahalnya harga kuota internet saat ini.

Pembelajaran e-learning terdapat perbedaan yang sedikit dikarenakan faktor pembelajaran yang sama-sama memiliki unsur online, penggunaan aplikasi yang sama yaitu google classroom, soal uraian dengan tingkatan yang sama, serta pemahaman peserta didik dengan teknologi handphone yang memadai. SDN Warurejo dapat menggunakan pembelajaran blended learning maupun pembelajaran e-learning


B. Saran

Saran untuk peneliti selanjutnya adalah untuk lebih memberikan pelatihan aplikasi Zoom maupun Whatsapp Group kepada seluruh Guru dan Warga Belajar. Dengan demikian, diharapkan pada saat tahap implementasi penyelenggaraan pembelajaran daring selanjutnya dapat berjalan dengan lancar. Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis memberikan saran sebagai berikut :

1. Sekolah yang memiliki jaringan internet yang kuat dan stabil.

2. Pendidik harus menguasai teknologi seperti Handphone dan komputer.


DAFTAR PUSTAKA

Afrilianto, M. “Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Kompetensi Strategis Matematis Siswa Smp Dengan Pendekatan Metaphorical Thinking.” Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung 1, no. 2 (2012).

Anas Sudijono, Pengantar Statistika Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011).

Angga Murizal, Yarman, Yerizon. “Pemahaman Konsep Matematis Dan Model Pembelajaran.” Pendidikan Matematika 1, no. 1 (2012).

Anwar, Chairul. Buku Terlengkap Teori-Teori Pendidikan Klasik Hingga Kontemporer. Yogyakarta: IRCiSoD, 2017.

Brahma. (2020). Penggunaan Zoom Sebagai Pembelajaran Berbasis Online Dalam Mata Kuliah Sosiologi dan Antropologi Pada Mahasiswa PPKN di STKIP Kusumanegara Jakarta. Aksara Jurnal Pendidikan Nonformal. 6, (2): 97-102.

Dewimarni, Syelfia. “Kemampuan Komunikasi Dan Pemahaman Konsep Aljabar Linier Mahasiswa Universitas Putra INdonesia ‘YPTK’ Padang.” Al-Jabar: Jurnal Pendidikan Matematika 8, no. 1 (2017).

Ekaputri, Yanti Nazmai. “Pengaruh Model Pembelajaran Generatif Terhadap Pemahaman Konsep Siswa Kelas VIII MTs Di Kabupaten Pesisir Selatan.” STKIP I, no. 1 (2016).

Fahrurrozi, Muh, and Muhip Abdul Majid. “Pengembangkan Model Pembelajaran Blended Learning Berbasis Edmodo Dalam Membentuk Kemandirian Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IPS SMAN 1 Selong Tahun Pelajaran 2017/2018.” JPEK 1, no. Juli (2018).

Farida. “Pengaruh Strategi Pembelajaran Heuristic Vee Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Peserta Didik.” Al-Jabar: Jurnal Pendidikan Matematika 6, no. 2 (2015).

Hakim, abdul barir. “Efektifitas Penggunaan E-Learning Moodle , Google Classroom Dan Edmodo.” I-Statement 2, no. 1 (2016).

Harun Rasyid Dan Mansur, Penelitian Hasil Belajar (Bandung: Cv Wacana Prima, 2007).

Hima, Lina Rihatul. “Pengaruh Pembelajaran Bauran ( Blended Learning ) Terhadap Motivasi Siswa Pada Materi Relasi Dan Fungsi.” Ilmiah Pendidikan Matematika 2, no. 1 (2016).

Husaini Usman, Penghantar Statistika, (Jakarta: Bumi Akasara, 2011).

Hussin, Zaharah, Saedah Siraj, Ghazali Darusalam, and Nur Hasbuna Mohd Salleh. “Kajian Model Blended Learning Dalam Jurnal Terpilih: Satu Analisis Kandungan.” Kurikulum & Pengajaran Asia Pasifik 3, no. 1 (2015).

Hutagalung, Ruminda. “Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Melalui Pembelajaran Guided Discovery Berbasis Budaya Toba Di Smp Negeri 1tukka” Mathematics Education and Science 2, no. 2 (2017).

Khuzaini, Tatag Bagus Argikas dan Nanang. “Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Depok.” Mercumatika 1, no. 1 (2016).

Koran, Jaya Kumar C. “Aplikasi E-Learning Dalam Pengajaran Dan Pembelajaran Di Sekolah-Sekolah Malaysia.” E-Learning 3, no. 1 (2001).

Kusmana, Ade. “E-Learning Dalam Pembelajaran.” Lentera Pendidikan 14, no. 1 (2011).


Oleh :

HARTINI, S.Pd.SD

NIP. 19750721 200801 2 008

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.