Sabtu, 13 Maret 2021

Korban Pengeroyokan di Nias Barat Dijadikan Tersangka Polres Nias

    3/13/2021   No comments


MOKI, Nias Barat-Polres Nias menetapkan status korban pengeroyokan berinisial HH alias Ama Eros warga Dusun I Desa Fardoro, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat Sumatera Utara sebagai tersangka. Hal itu, sesuai surat pemberitahuan penetapan tersangka Nomor: K/ 19.A/ I/ RES.1.6./ 2021/ Reskrim tertanggal 25 Januari 2021.


Dalam surat pemberitahuan tersebut korban HH dan beberapa keluarganya ditetapkan sebagai tersangka atas laporan sanding terduga pelaku berinisial FH alias Ama Markus dengan nomor: STPLP/25/VII/2020/ NS-Rombu tertanggal 25 Juli 2020. Sedangkan laporan pengaduan korban nomor: STPLP/24/VII/2020/NS-Rombu tertanggal 25 Juli 2020 tak kunjung diproses atau hingga kini belum ada penetapan tersangka.


"Pada peristiwa itu jelas-jelas bahwa HH adalah sebagai korban. Ia diserang dan dikeroyok oleh ketiga terduga pelaku FH, IH dan SG di lokasi bangunan tempat usaha mebel miliknya. Akibat peristiwa itu korban mengalami sejumlah luka-luka hingga ia terpaksa dirawat di UPT Puskesmas Sirombu Nias Barat," ujar korban Hasanaha Hia alias Ama Eros kepada media ini, Sabtu (13/03/2021).


Dijelaskan kronologis kejadian, awalnya para terduga pelaku mendatangi lokasi bangunan tempat usaha milik saya, kemudian pelaku melarang saya mendirikan usaha di lokasi tersebut karena pelaku mengklaim bahwa tanah itu adalah milik mereka. Kemudian saya menjelaskan kepada pelaku bahwa tanah yang sedang saya dibangun itu merupakan tanah warisan milik keluarga saya yang sudah kami kuasai selama turun-temurun.


"Meski saat itu saya selalu mengajak pelaku untuk membicarakan masalah tanah tersebut secara kekeluargaan bukan dengan emosional. Namun para pelaku yang sudah dikuasai oleh emosi langsung mengeroyok saya hingga babak belur," katanya.


Atas peristiwa itu korban langsung membuat laporan pengaduan polisi di Polsek Sirombu untuk meminta keadilan. Setelah itu, terduga pelaku juga membuat laporan dan mengklaim bahwa dirinya juga dikeroyok oleh pihak korban.


Korban juga menuturkan bahwa dibawah penanganan Polsek Sirombu laporan pengaduannya sudah naik ke tahap sidik karena mencukupi alat bukti. Sedangkan terhadap laporan terduga pelaku diduga juga dipaksakan naik ke tahap sidik dan kudis yang diklaim oleh terduga pelaku sebagai luka akibat penganiayaan diduga dijadikan sebagai bukti penguat laporannya.


Terkait itu, korban menduga bahwa laporan terduga pelaku lebih diprioritaskan karena oknum penyidik Polsek Sirombu memiliki hubungan emosional baik dengan terduga pelaku yang kini masih menjabat sebagai kepada desa defenitif. Terlebih-lebih karena pelaku juga berasal dari keluarga yang berada dan beberapa saudaranya menduduki jabatan strategis di wilayah pemerintahan kabupaten Nias Barat.


Setelah laporan pengaduan saya dan pelaku naik ke tahap sidik, selanjutnya Polsek Sirombu melakukan pelimpahan berkas untuk ditangani di Polres Nias. Dibawah penanganan Polres Nias, laporan saya sebagai korban ditangani oleh unit IV Sat Reskrim dan terhadap laporan terduga pelaku ditangani oleh Unit II Sat Reskrim, tuturnya. 


Menurut Ama Eros, dalam proses penanganan kasus penganiayaan terhadap dirinya, ia merasa diintimidasi oleh oknum penyidik. Ketika pengambilan BAP lanjutan, Selasa (25/08/2020) diruang pemeriksaan unit IV Sat Reskrim Polres Nias, saya ditekan dan dibentak-bentak oleh oknum penyidik hingga diteror dengan puluhan pertanyaan yang terkesan menyudutkan. Bahkan saat itu saya diperiksa oleh penyidik pembantu BRIPDA Gratia Rogate Telaumbanua mulai pagi sekira pukul 10.00 WIB hingga malam Pukul 20.38 WIB.


Sehingga pada saat itu, saya baru bisa pulang kerumah malam hari. Akibatnya saya semakin trauma dan juga kondisi kesehatan saya tidak stabil, sementara wajah saya pucat akibat lapar dan kelelahan, keluh korban.


Selanjutnya, menurut Hasanaha Hia ketika prarekon digelar pada tanggal 28 Desember 2020, penyidik pembantu Bripda Gratia Rogate Telaumbanua diduga tidak profesional dan diduga mengintervensi saksi-saksi yang ia hadirkan. Oknum penyidik juga melarang korban membaca beritaacaranya dengan seteliti-telitinya.


Berita acara pra rekon tidak sesuai dengan keterangan saya dan para saksi. Setelah saya baca dengan terliti, saya keberatan dan meminta agar berita acara tersebut disesuaikan dengan hasil gelar di lapangan karena isi berita acaranya diduga banyak yang dikarang oleh oknum penyidik sendiri. Kemudian penyidik pembantu unit IV Reskrim Bripda Gratia Rogate Telaumbanua malah emosi dan merebut berita acara prarekon yang sedang saya baca itu ditangan saya, selanjutnya ia menyuruh saya keluar dari ruangan. Sehingga kami pihak korban menduga bahwa penyidik tersebut berusaha mengkaburkan fakta hukum atas penganiayaan terhadap diri saya, ungkapnya.


Korban mengeluh bahwa dalam perkara para pelaku diduga dibekingi oleh oknum Polisi yang bertugas di wilayah hukum Polres Nias berinisial FT yang juga memiliki hubungan keluarga dengan pelaku. Oknum Polisi tersebut juga memiliki hubungan emosional baik dengan penyidik pembantu di unit II dan unit IV  Sat Reskrim yang kini diduga berusaha memutarbalikkan fakta dalam kasus penganiayaan terhadap dirinya sehingga ia beserta keluarganya dijadikan tersangka, kemudian laporannya malah dihentikan.


Saya sebagai korban malah ditetapkan sebagai tersangka sementara terduga pelaku semakin merasa diatas angin dan tak bisa tersentuh hukum. Terhadap laporan saya akan dihentikan oleh unit IV Sat Reskrim Polres Nias dengan alasan tidak memenuhi alat bukti sesuai SP2HP nomor: B/ 269.B/ III/ RES.1.6./ 2021 Reskrim tertanggal 05 Maret 2020, keluhnya.


Dia juga mengatakan bahwa dalam kasus penganiayaan yang dialaminya yang terjadi pada tanggal 25 Juli 2020 di lokasi bangunan tempat usaha mebel miliknya, korban merasa dikriminalisasi oleh pihak Sat Reskrim Polres Nias. Seharusnya ia adalah satu-satunya korban dalam peristiwa itu tetapi malah sebaliknya ia ditetapkan sebagai tersangka dan juga beberapa keluarganya yang tak berdosa ikut jadi tersangka.


Atas penetapan tersangka itu, kami pihak korban sedang menyiapkan dokumen serta alat bukti pendukung untuk melakukan upaya hukum lain karena Sat Reskrim Polres Nias memperlakukan kami sebagai korban sangat tidak adil. Kami juga akan melayangkan surat pengaduan ke Kapolri dan ditembuskan ke Presiden RI, Kompolnas, Menkumham dan lainya karena kami merasa tidak ada keadilan di Polres Nias, tandasnya.


Pihak keluarga korban juga berharap agar bapak Kapolri mengambil alih perkara ini dan menindak semua oknum Polisi yang diduga berusaha mengkaburkan fakta hukum dalam kasus penganiayaan terhadap Hasanaha Hia alias Ama Eros demi melindungi pelaku.(doeha)

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.