Sabtu, 27 Maret 2021

Polres Nias Diduga Tangkap Paksa Saudara Kandung Korban Pengeroyokan di Nias Barat

    3/27/2021   No comments


MOKI, Nias-Polres Nias diduga melakukan tangkap paksa terhadap abang kandung korban pengeroyokan di Dusun I Desa Fadoro, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat Provinsi Sumatera Utara berinisial HH di kediamannya, Selasa malam (23/03/2020) sekira pukul 19.00 WIB. Sementara pelaku pengeroyokan terhadap adik kandung HH hingga kini masih bebas berkeliaran.


Hal itu sesuai surat perintah penangkapan nomor: SP-Kap/ 43/ III/ Res.1.6./2021/Reskrim. Untuk kepentingan laporan sanding terduga pelaku pengeroyokan terhadap adik kandung HH, yang berinisial FH oknum Kepala Desa (Kades) di Nias Barat dengan laporan polisi nomor: LP/25/VII/2020/ NS-Rombu atas nama pelapor Famatoronia Hia alias Ama Markus. Dalam surat penangkapan tersebut, abang kandung korban dijerat pasal 170 ayat (1) Sub 351 ayat (1) Jo 55 dari KUHPidana.


Upaya tangkap paksa itu, diduga tidak sesuai dengan Perkapolri nomor 14 tahun 2012 tentang manajemen penyidikan tidak pidana. Pasal 36 tentang tindakan penangkapan terhadap tersangka sebagaimana dimaksud pada bagian (b) bahwa tersangka telah dipanggil 2 kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan yang patut dan wajar. Juga diduga tidak sesuai UU nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.


Pihak keluarga korban, menyayangkan upaya tangkap paksa dan penahanan terhadap HH abang kandung korban yang dilakukan oleh Polres Nias tersebut. Pasalnya, dalam kasus itu pihak korban yang juga sebagai terlapor atas laporan sanding terduga pelaku FH selalu kooperatif menghadiri panggilan Polisi.


"Pada Selasa malam (23/03/2020) tiba-tiba sejumlah pria yang mengendarai satu unit mobil mendatangi rumah dan membawa suami saya, kami pun bingung dan ketakutan. Sehingga kelima anak saya yang masih balita juga menangis histeris karena bapaknya yang barusan pulang dari kebun diboyong oleh sejumlah pria secara tiba-tiba dan bahkan saat itu suami saya tidak sempat makan di rumah," ungkap Yasimani Halawa yang juga isteri HH, kepada wartawan, Kamis (25/03/2020).


Sejak suami saya diboyong oleh sejumlah pria tersebut, hingga kini ia juga belum pulang ke rumah. "Saya sangat kuatir karena tidak tahu bagaimana keadaanya di sana, apalagi semua anak-anak yang terus menanyakan mengapa bapak mereka tidak pulang-pulang?," keluh Yasimani sambil meneteskan air mata.


Sejumlah warga Desa Fadoro, Efao Daeli, Kariana Hia, Menifati Hia dan beberapa warga lainnya mengatakan bahwa korban sesungguhnya dalam peristiwa yang terjadi pada, Sabtu 25 Juli 2020 tahun lalu adalah Hasanaha Hia alias Ama Eros bukan Famatoronia Hia alias Ama Markus.


"Pada saat kejadian kami berada di TKP dan menyaksikan langsung bahwa Hasanaha Hia alias Ama Eros diserang dan dianiaya hingga babak belur oleh terduga pelaku FH oknum Kades di Nias Barat bersama IH dan SG di lokasi bangunan tempat usaha mebel milik korban," ungkap Efao Daeli sembari mengakui bahwa saat kejadia ia hanya berperan membantu melerai kedua belah pihak.


Dia membenarkan bahwa, saat kejadian HH yang juga abang kandung korban, sedang bekerja mengecor fondasi bangunan tempat usaha mebel milik adik kandungnya Hasanaha Hia alias Ama Eros yang berjarak kurang lebih 10 meter dari tempat korban dikeroyok oleh para terduga pelaku dan sama sekali belum menganiaya para pelaku.


"Korban dan saudaranya lainnya juga belum pernah melakukan penganiayaan terhadap terduga pelaku FH oknum Kades tersebut. Malah sebaliknya FH dan rekannya yang mengeroyok Hasanaha Hia alias Ama Eros. Terkait hal itu, saya telah memberikan keterangan di Polsek Sirombu begitu juga setelah kasus tersebut dilimpahkan di Polres Nias dan saya juga siap bersumpah atas kebenaran kesaksian saya itu," tegas Daeli.


Hal itu juga dibenarkan oleh Menifati Hia dan Kariana Hia yang juga berada di sekitar TKP dan menyaksikan langsung ketika para terduga pelaku FH, IH dan SG mengeroyok Hasanaha Hia alias Ama Eros.


Saya juga menyaksikan langsung kejadiannya dimana saat itu saya sedang berdiri dengan jarak sekira 3 meter sambil merekam video kejadiannya melalui HP (handphone), kata Hia dan dibenarkan oleh Kariana.


Terkait penetapan tersangka terhadap korban penganiayaan di Nias Barat dan saudaranya lainnya serta upaya tangkap paksa yang dilakukan oleh pihak Polres Nias terhadap abang kandung korban diduga terindikasi pelanggaran Pasal 421, Pasal 422 dan Pasal 423 KUHP Bab 28 tentang Kejahatan Dalam Jabatan. Juga diduga melanggar UUD tahun 1945 tentang hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam pasal 28A, pasal 28D ayat (1), Pasal 28G ayat (1) dan (2), Pasal 28I ayat (1), (2), (4) dan (5).(doeha)

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.