Sabtu, 05 Maret 2022

DIDUGA ADA RIBUAN VETERAN PALSU BERKELIARAN YANG DIREKRUT OLEH CALOK DAN OKNUM MINFET

    3/05/2022   No comments


KUPANG - Gelar veteran/ pejuang diperoleh melalui sebuah pertempuran untuk membela, mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Atas perjuangan keras itu, kemudian pemerintah melalui presiden Republik Indonesia  memberikan gelar kehormatan kepada pejuang Negara, berupa tunjangan Feteran.


Berdasarkan Peraturan Pemerintah, Nomor 23 tahun 1978, sekitar 3360 orang pejuang, berhak mendapatkan gelar kehormatan veteran, diberikan kepada pejuang peristiwa Seroja tanggal 21 Mei 1975 sampai dengan tanggal 17 Juli 1976 yang saat itu berperang melawan tentara asing.


Peraturan pemerintah ini, diduga dilanggar oleh Oknum Stefanus Atok Bau dengan melakukan perekrutan dan pendaftaran kepada calon veteran Palsu yang tidak pernah berjuang dan berperang melawan tentara penjajah dengan pungutan biaya jutaan rupiah.


Hal ini ditegaskan oleh Mariono, anggota veteran 21 Mei 1975 sampai dengan tanggal 17 Juli 1976, kepada awak media ini, Senin (28/2/2022).


Adanya ribuan veteran palsu berkeliaran di Propinsi. NTT, yang direkrut oleh calo dan oknum minfet, perekrutan itu dilakukan terhadap orang-orang yang tidak pernah berjuang.


" Di Ntt, ada ribuan veteran Palsu berkeliaran, veteran Palsu ini direkrut oleh oknum Minfet dan calo besar Stefanus Atok Bau, untuk menjadi anggota veteran wajib memberika uang Rp. 2.500.000 sampai dengan puluhan juta, pungutan ini diambil dari calon veteran baru atau orang yang tidak pernah berjuang dan berperang melawan tentara asing" ujar Mariono.


Peristiwa rekrutmen dan dugaan pungutan liar ini, telah di laporkan ke Polda Nusa Tenggara Timur, tanggal 30 Oktober 2013, telah dilimpahkan ke Polres Belu sejak November 2013, namun penanganan laporan tersebut tidak berjalan, terkesan didiamkan.


" Tanggal 30 /10/2013 kami melaporkan Stefanus Atok Bau ke Polda NTT atas dugaan  pemerasan dan pemalsuan identitas, bukti-bukti berupa 10 lembar kwitansi penerimaan uang, 5 lembar bukti surat kelahiran Stefanus Atok Bau, Laporan dan bukti yang kami berikan telah dilimpahkan ke Polres Belu sejak bulan November 2013, pada tahun 2016 sesuai surat irwasda Polda NTT, bahwa Polda NTT telah menetapkan oknum Stefanus Atok Bau sebagai tersangka, namun status tersagka itu dibatalkan oleh Polres Belu pada tahun 2019, dengan alasan tidak cukup bukti" ujar Mariono.


Aksi Stefanus Atok Bau, berlanjut pada tahun 2010, 2011, 2012, 2013 dan tahun 2014, melakukan rekrutmen calon veteran di Kabupaten Belu, tanpa melalui prosedur yang berlaku, yang mana tidak melalui tahapan sesuai peraturan pemerintah.


" 5 tahun berturut- turut Stefanus Atok Bau, merekrut  calon veteran di kabupaten Belu, tanpa melalui Ka Minfet 01 Kupang dan Ka Babincat 09 Udayana Bali, berkas-berkas calon veteran langsung dikirim ke Dirjen Pothan dan oknum-oknum yang ada pada Dirjen Pothan,  diantaranya Brigjen Eko Budi, Kolonel.Purwanto dan Pns Kemenhan, Heredius"


" Berkas veteran palsu dikirim ke kantor kemenhan, kemudian diproses,  Keputusan (Skep) veteran Palsu yang sudah diproses, dikirim langsung dari oknum yang ada di dirjen Pothan kepada Stefanus Atok Bau, kemudian di bagikan kepada veteran- veteran yang tidak berhak dan bukan pejuang" ungkapnya.


Menurut Mariono, ia memiliki bukti pemalsuan tahun lahir, riwayat perjuangan, manipulasi surat perintah dan saksi pejuang, yang mana perekrutan itu dilakukan pada hari dan tanggal yang sama dengan jumlah veteran palsu berkisar 3000 orang calon veteran.


Dalam kasus perekrutan veteran palsu ini menyeret beberapa nama oknum TNI yang disidangkan atas dugaan pungutan liar.


" Dalam kasus mafia veteran, ada oknum TNI yang sudah disidangkan di mahmilti Surabaya pada tahun 2011 yaitu Mayor INF. Longginus Lelo, dengan hukuman 3 bulan penjara dan kapten INF.Hendrik They, disidangkan di pengadilan Militer Kupang pada tahun 2014 karena yang bersangkutan veteran palsu dan status veteran ya dicabut dan dihukum dengan hukuman percobaan  4 bulan"


" Mayor Maria, Ka minfet, telah dilaporkan ke POM, laporannya sementara di proses oleh Pomdam, hingga saat ini belum ada putusan, ada juga pejabat dan pegawai Kemenhan yakni Brigjen Eko Budi, Kolonel. Purwanto dan staf Pns. Heredius, sudah di laporkan juga, namun belum ditindak lanjuti oleh Puspom TNI".


Menurut Purnawirawan TNI- AD Yonif 743 ini, pejuang-pejuang yang mestinya mendapat hak kehormatan veteran yakni

1. Anggota TNI yang masuk  dari NTT sebanyak 650 orang.

2. Mahasiswa sebanyak 35 orang.

3. Wanra sepanjang perbatasan dari Buolalu sampai metamauk  sebanyak 1200 orang.

4. PMI sebanyak 40 orang

5. Partisan sebanyak 1400 orang.

6. Polri sebanyak 35 orang, sesuai peraturan pemerintah, PP 23 tahun 1978, berlaku mulai 21 Mei 1975 sampai dengan tanggal 17 Juli 1976 melawan tentara portugis, jumlahnya berkisar 3360 orang, hingga kini jumlahnya tidak mencapai jumlah diatas, karena banyak yang telah meninggal, sebagian sudah mendapat gelar kehormatan Veteran, sekitar 1000 orang belum mendapat gelar kehormatan itu akibat persoalan keuangan dalam mengurus administrasi Veteran, ungkapnya.


Akibat dari perekrutan Veteran yang bukan pejuang, Negara mengalami kerugian berkisar 6 Milyar rupiah per bulan, untuk membayar gaji Veteran palsu yang ada di NTT.


Menanggapi persoalan perekrutan Veteran palsu yang dilakukan oknum Stefanus Atok Bau dan oknum prajurit TNI, Mariono telah mengirim surat kepada  Presiden Republik Indonesia sebanyak 5 kali, namun surat pengaduan yang dikirim, hingga kini tidak ditanggapi. 

(SAMSUL/Ryan)

Pembaca :
{[['']]}
Lanjut
Selanjutnya
Selanjutnya
Berita Lain
Tidak ada komentar:
Write komentar

© 2008 Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.