KRIMINAL

HUKUM

PENDIDIKAN

OLAH RAGA

KULINER

Sabtu, 25 Januari 2020

TEC Sosialisasi Perda Anti Narkoba

    1/25/2020   No comments
MOKI, Lampung - Bicara Narkoba, adalah berbicara soal problematika yang sangat memprihatinkan di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung, bagaimana tidak, saat ini peredaran Narkotika di tanah air sangat luar biasa, bisa dilihat hampir setiap hari selalu ada pemberitaan tentang Narkoba.

Oleh sebab itu, dibawah Kepememimpinan Gubernur Lampung Ir.H.Arinal Djunaidi dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung gencar melakukan Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Fasilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.

Salah satunya adalah Anggota DPRD Provinsi Lampung H. Tony Eka Candra (TEC). Tidak tanggung-tanggung Politisi senior Partai Golkar Lampung ini mengajak Konselor Internasional DPD GRANAT Provinsi Lampung Drs. Rusfian Effendi, M.IP, dan Akademisi Universitas Tulang Bawang (UTB) M.Ridho, SH., MH. melaksanakan Sosialisasi Perda (Sosper) Nomor 1 Tahun 2019 di Dusun Suka Bandung, Desa Rulung Sari, Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (25/1/2020).

Hadir dalam kesempatan tersebut, H.Riza Mirhadi, SH, H.Sidik Maryanto, H.Benny HN Mansyur, S.Sos,SH, Sugeng Kristianto,SH, Reza Pahlevi, SE.,MM, Maulidya Herlita, Nazirhan, SH. Erwandi, SE, Harry Wagindarto, BA, Yudha Sukarya, dan Suwardi, SHI.

Dihadapan 300an lebih peserta TEC menegaskan, Pemerintah Provinsi Lampung telah menabuh genderang perang terhadap kejahatan, Peredaran Gelap dan Penyalahgunaan Narkotika khususnya di Provinsi Lampung.

TEC yang juga Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Provinsi Lampung,  mengungkapkan, Provinsi Lampung saat ini menempati peringkat ke-3 di Sumatera terkait penyalahgunaan Narkoba, dan peringkat ke-8 Nasional, dengan penyalahguna 128 ribu jiwa. Secara nasional pengguna Narkoba saat ini sekitar 5,9 juta jiwa, 22 % diantaranya adalah pelajar, mahasiswa dan generasi muda calon penerus generasi bangsa.

"Setiap hari 50 orang mati sia sia karena Narkoba, dan mencapai 18 ribu orang setiap tahunnya." ujar TEC

Oleh sebab itu, dengan Keluarnya Perda Nomor 1 Tahun 2019 diharapkan bersama-sama masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, kelompok ibu-ibu, dan kelompok masyarakat lainnya, mampu meminimalisir penggunaan bahaya Narkotika di Provinsi Lampung.

Sementara, Konselor DPD Granat Provinsi Lampung Drs. Rusfian Effendi, M.IP dalam paparannya mengatakan, meningkatnya penggunaan narkoba di Indonesia, karena kurangnya pemahaman tentang bahaya dari penyalahgunaan narkoba itu sendiri, dibarengi dengan kurangnya kepedulian masyarakat, dan terkadang aspek penegakan hukumnyapun masih lemah dan tidak berpihak pada rasa keadilan masyarakat.

"Indonesia saat ini sudah bukan lagi Darurat Narkoba, tetapi sudah Bencana Narkoba, oleh sebab itu, jika semua lapisan masyarakat serta segenap komponen dan potensi bangsa bersatu padu dalam mencegah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba, maka masuknya barang haram tersebut dapat dicegah, dan akan mempersempit ruang gerak para pengedar dan bandar narkoba, sehingga cita-cita Indonesia yang sehat dan bebas narkoba dapat terwujud," ujar Rusfian.

Jenis narkoba yang paling banyak disalahgunakan adalah Ganja, Ekstasi dan Sabu, yang menyasar pada kelompok yang awalnya hanya mencoba pakai terutama kelompok Pelajar, Mahasiswa dan kelompok Pekerja usia produktif.

Setiap zat atau kandungan yang terdapat dalam narkoba apabila dikonsumsi secara oral maupun diminum akan menimbukan efek kecanduan yang dapat merusak serta merugikan diri sendiri serta orang lain, bahkan penyalahgunaan Narkoba adalah sebuah tindak pidana.

“Narkoba itu banyak jumlahnya, karena banyak ragamnya, maka narkoba dikelompokan dalam tiga kelompok besar yakni Narkotika, Psikotropika, dan bahan Adictif lainnya dengan cara penggunaan yang berbeda-beda ada yang dihisap, disuntik dan dikonsumsi,” katanya.

Oleh karena itu perlunya cara pencegahan dan penanggulangan dengan metode preemtif, prefentif, refresif dan rehabilitasi yang dilakukan oleh semua unsur seperti Pemerintah, aparat Kepolisan dan segenap elemen masyarakat lainnya guna menyelamatkan generasi penerus bangsa kedepan.

“Untuk menanggulangi para pecandu yang sudah ketergantungan Narkoba, harus dilakukan melaui jalur rehabilitasi medis, psikis, dan sosial secara terpadu dan terintegrasi. Karena melalui jalur ini apabila dilakukan secara massif terpadu dan berkesinambungan serta didukung oleh segenap komponen bangsa, maka peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba akan semakin berkurang,” kata Rusfian.

Sementara Akademisi Universitas Tulang Bawang M.Ridho, SH., MH merasa prihatin, bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi sasaran empuk pasar besar peredaran dan perdagangan narkoba di dunia.

Apalagi 22 % diantaranya adalah pelajar, mahasiswa dan generasi muda calon penerus generasi bangsa.  Pecandu narkoba sebagian kecil saja yang dapat pulih kembali kepada kehidupan normal, karena sebagian berakhir idiot dan menjadi beban keluarga, beban masyarakat sekaligus beban negara, bahkan banyak yang menunggu kematiannya.

Mantan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini juga menghimbau kepada seluruh elemen lapisan masyarakat dan komponen bangsa turut serta membantu Pemerintah dan aparat penegak hukum mencegah maraknya peredaran narkoba yang saat ini sudah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia.

Pemerintah telah mengeluarkan Perda nomor 1 tahun 2019, didalam BAB III disebutkan upaya pencegahan, dengan sasaran fasilitasi keluarga, pencegahan melalui lingkungan masyarakat, fasilitasi satuan pendidikan, melalui ormas ikut serta mencegah peredaran gelap narkoba, lingkungan instansi pemerintah daerah harus bersih dengan melaksanakan tes narkotika, pengelola Badan Usaha dan Pemondokan/hotel yang anti narkotika, Media Massa serta Komunitas serta Lembaga Adat, juga berperan aktif dengan memberikan edukasi dan Informasi.

“Mahasiswa dan Pemuda harus mampu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, terhindar dari ancaman Narkoba dan barang haram lainnya, agar pemuda kedepan dapat menjadi penerus bangsa yang bersih, berkarakter dan memiliki pemikiran intelektual yang tinggi. Jangan sampai mahasiswa atau pemuda malah terjerumus kedalam lubang gelap Narkoba, mari kita deklarasikan bersama-sama, menolak dan mencegah peredaran gelap narkoba khususnya di Kabupaten Lampung Selatan." pungkas Ridho.(Seno/Red)
Iklan-Devis

Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IPA Kelas V Semester 1 Di SDN Warurejo Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning

    1/25/2020   No comments
HARTINI, S.Pd.SD
Guru Kelas SDN WARUREJO
Madiun Jawa Timur
MOKI, MADIUN-Paradigma dan Karakter , dua kata yang sama-sama bermakna kuat dan kokoh, dimana kita sangat sulit untuk meluluhkannya hanya dengan sekali tindakan ataupun pendapat, perubahan yang dituntut seiring perkembangan Teknologi membuat kita harus berlari untuk bisa mengejarnya, Cara pandang lama yang sudah direformasi tapi tetap saja berlaku karena sudah mendarah daging itulah yang amat sulit di lepaskan dari mindset bangsa Indonesia. Pandangan dimana jika anak pandai dalam kognitif itu merupakan kebanggaan dari orang tua, kognitif tidak menjamin keberhasilan seseoroang, berulangkali kajian ini di publikkan tetapi sebesar apapun usaha itu tetap saja tidak mampu merubah cara pandang Para Orang Tua yang mempunyai putra-putri di jenjang sekolah.
      Jika kita tidak mampu merubah paradigma yang ada, bagaimana karakter bangsa akan terbentuk dengan baik, yang ada karkater itu akan menjadi sebuah teori-teori yang hanya dilakukan sesaat namun tidak bisa tertanam dalam pribadi-pribadi anak didik kita, Kita memang patut iri dengan Negara jepang, bagaimana orang jepang itu punya disiplin, rasa kebangsaan dan cinta tanah air, pengetahuan yang bagus, itu karena di jepang pada anak usia dini tidak ditanamkan kognitif, melainkan ditanamkan dulu karakter mereka, saat karakter itu sudah menjadi tertanam baru kognitif, karakter lah yang menjadi dasar mereka mengimplementasi kan ilmu pengetahuan, apa yang terjadi di Indonesia berbanding terbalik dengan cara pandang di Indonesia.
      Jika kita berfiikir secara sederhana sebenarnya kita bisa seperti mereka, misalkan pendidikan agama, Pancasila dan bahasa jawa menjadi dasar / landasan pada anak didik kita sebelum menginjak jenjang sekolah, saya ambil contoh jika di Indonesia pada usia dini dari umur 4-9 tahun hanya diberi pendidikan agama, pancasila dengan bahasa jawa sebagai pengantarnya, Pendidikan dasar dalam agama di beri bekal kuat dalam berakhidah, berhubungan dengan Allah sebagai sang pencipta dan manusia, di imbangi dengan nilai-nilai pancasila dimana kita sebagai bangsa yang harus cinta tanah air, menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, rasa toleransi, sebagai bahasa pengantar adalah bahasa jawa di mana dalam bahasa jawa itu tertuang ungah-ungguh terhadap orang tua, terhadap orang yang lebih tua, sebaya dan usia di bawahnya.
      Perjuangan Bapak Pendidikan Indonesia untuk mewujudkan sistem pendidikan yang berazaskan kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan (azas-azas Tamansiswa). Lima azas Tamansiswa masih relevan untuk diwujudkan sampai saat ini. Azas kodrat alam mengandung arti bahwa pada hakikatnya manusia itu sebagai makhluk adalah satu dengan kodrat alam semesta ini, karena manusia tidak dapat terlepas dari kehendak hukum-hukum kodrat alam.        Sebaliknya, manusia akan mengalami kebahagiaan jika ia dapat mesra menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan. Penghargaan kita terhadap lingkungan alam semesta, hanya mungkin terwujud jika kita menyadari bahwa alam semesta itu sahabat kita, sehingga kita tidak boleh merusak lingkungan. Azas-azas lainnya (seperti azas kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan) menjadi amat relevan ketika praksis pendidikan nasional semakin tidak memerdekakan subyek didik akibat gempuran kapitalisme global dan ideologi lain dari asing.
      Pendidikan nasional yang seharusnya mampu menumbuhkan masyarakat dan bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya pada akhirnya justru melahirkan serba tergantung pada bangsa asing, baik secara politik, ekonomi, maupun budaya.                Pelajaran sejarah yang diberikan sejak SD hingga SMTA ternyata tidak mampu menyentuh kesadaran berbangsa pada anak didik. Kenyataan ini perlu menjadi bahan refleksi bersama, terutama menyangkut soal metode pengajarannya. Apakah  pelajaran sejarah yang tidak pas ataukah metode pengajarannya yang tidak menarik?.
      Terkadang memang manusia banyak pengetahuan keilmuan ditandai memiliki banyak referensi, pandai berorasi, dan cakap menulis tetapi kelakuannya belum mencerminkan seorang yang berilmu. sebuah permasalahan ketika ilmu itu hanya sebuah hafalan. Ketika membaca itu hanya membaca sebuah teks tetapi tidak pernah membaca keadaan alam sekitar dan terjun langsung terlibat dalam aktivitas bermasyarakat. Maka ilmu juga sebatas tahu tetapi tidak tahu untuk apa tujuannya ia tahu. Orang menumpuk ilmu tetapi tidak memiliki daya guna ataupun manfaat. Dan itu sangat mungkin terjadi jika terjebak pada dunia hafal-menghafal berorientasi hasil yang terukur dengan skor. Ya, skor tinggi karena pengetahuan tinggi padahal tidak akan menjamin produk tingkah laku. Hakikat pendidikan itu terletak pada perubahan setelah manusia mengenyam pendidikan, hasilnya berupa watak dan karakter yang ukurannya adalah kebermanfaatan bagi orang banyak. Hasilnya setelah bekajar tidak hanya pinter tapi bisa sopan, jujur, sederhana, rendah hati dan bentuk-bentuk kekhasan individu yang lain.
      Bentuk bagaimana ketika orang berilmu tetapi tidak pernah tahu ngelmunya. Ngelmu dapat dimaknai sebagai ajaran Kepribadian untuk bekal hidup menggunakan rasa, batin, dan laku. Dalam memahami ngelmu tidak bisa kita hanya duduk mendengarkan atau sekedar membaca dari sebuah buku seperti halnya memahami ilmu. Ada laku yang harus ditempuh. Dalam masyarakat Jawa laku dikenal dengan adanya proses eneng, ening, eling, dan awas. Eneng itu membuat fisik ini diam. Ening yaitu membuat pikiran dan hati bening terlebih dahulu. Eling berarti dengan penuh kesadaran. Kemudian awas dalam artian berhati-hati. Ini adalah jawaban-jawaban bahwa ilmu yang kita punya itu perlu untuk diketahui ngelmu untuk melaksanakannya. Tidak hanya terjebak dalam ilmu pengetahuan hafalan kemudian menjadi bingung untuk melakukan. Melakukan, mengimplementasikan, menerapkan, mengejawantahkan itu adalah bentuk laku dan laku adalah hakikat dari ngelmu. Seperti pepatah ngelmu iku kelakone kanthi laku. Kiranya kejernihan pikiran dan hati serta bertingkah laku hati-hati selalu waspada harus dipegang dahulu sebelum orang menerima ilmu-ilmu agar ilmu tetap bermanfaat.
      Pendiri Bangsa Saat merumuskan Dasar Negara Memang sudah dikemas sesempurna mungkin agar benar-benar menjadi dasar kepribadian Bangsa Indonesia, jika kita sebagai penerus generasi bangsa dapat mengimplementasi apa yang terkandung dalam dasar Negara itu saya yakin akan terjadi sebuah keseimbangan dalam segala aspek, pendidikan pancasila adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga Negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela Negara, demi kelangsungan kehidupan dan kemajuan bangsa dan Negara.  Fungsi pokok pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia adalah sebagai pandangan hidup, pedoman hidup, dam petunjuk arah bagi semua kegiatan hidup dan penghidupan bangsa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pancasila sebagai kepribadian Bangsa Indonesia Kepribadian artinya gambaran tentang sikap dan perilaku atau amal perbuatan manusia, yang khas yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain. Ciri khas kepribadian bangsa Indonesia tercermin dalam sila-sila pancasila, yaitu bahwa bangsa Indonesia bangsa yang:
Membicarakan tentang hal-hal yang hakiki atau mendasar adalah upaya memahami hakikat pancasila dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pancasila memiliki keluasan arti filosofis, maka dari pengertian pokok tersebut dapat diberi arti yang bermacam-macam, antara lain sebagai berikut : Pancasila sebagai Dasar Negara, Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia, sebagai cita-cita Pancasila dan tujuan bangsa Indonesia. Pendidikan Pancasila mengarah perhatian pada moral yang diharap dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, perilaku kebudayaan, dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kebudayaan, dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan perorangan dan golongan.

Oleh :
HARTINI, S.Pd.SD
Guru Kelas SDN WARUREJO
Madiun Jawa Timur

Iklan-Devis

Jumat, 24 Januari 2020

Politisi Senior Partai Golkar Firman Soebagyo Mendukung Penuh Rencana Kerja Pemerintah 5 Tahun Kedepan

    1/24/2020   No comments
MOKI, JAKARTA-Firman Soebagyo Politisi senior anggota DPR RI dari Patai Golkar meyatakan, akan mendukung penuh terhadap rencana kerja Pemerintah 5 tahun kedepan terutama membangun SDM yang lebih berkarakrer, kerja keras dan memiliki etos kerja yang baik.

Ditengah tengah kesibukan dalam menjalankan tugas di Senayan Firman Soebagyo mengatakan, DPR harus  sepenuhnya mendukung RUU Omnibus Law "CIPTA LAPANGAN KERJA" inisatif Pemerintah.

Ini merupakan sebuah terobosan baru untuk mengatasi/merevisi berbagai UU yang tumpang tindih selama ini, sehingga menghambat investasi dan penciptaan lapangan kerja baru termasuk pertumbuhan UMKM yang merupakan bemper perekonomian nasional.

Firman Soebagyo juga menegaskan, bahwa saat ini jumlah pengangguran 7.05 juta orang dan angkatan kerja baru 2 juta orang per tahun.

Untuk itu "NEGARA HARUS HADIR" dalam bentuk membuat regulasi dan pembentukan Undang - Undang Omnibus Law Cipta lapangan kerja untuk menyelesaikan berbagai hambatan dan tetap memfokuskan terhadap aspek perlindungan pekerja (existing) dan perluasan tenaga kerja untuk memberikan kesempatan pekerja baru mendapatkan pekerjaan.

Memberikan pelayan dan proses perijinan yang cepat dan baik  akan memberikan daya tarik investasi.

"Dengan investasi baru akan menciptakan lapangan kerja baru untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional," ujar Firman anggt DPR RI dari Dapil Jateng 3 ini. (Red/Aris)
Iklan-Devis

Babinsa 12/Telukdalam Dampingi Poktan Sejati Tanam Padi

    1/24/2020   No comments
MOKI, Nias Selatan-Babinsa Koramil 12/Telukdalam Serda Bhaktiar Sitanggang dan Kopda Robert Pane melaksanakan pendampingan pertanian penanaman padi sekitar 0.5 Ha di Kelompok tani (Poktan) Sejati Desa Ramba Ramba Kecamatan Ulususua Kabupaten Nias Selatan Propinsi Sumatera Utara. Jumat, (24/01/2020).

Serda Bhaktiar Sitanggang menyampaikan pada bulan januari ini petani kita di wilayah Kecamatan Ulususua sedang melaksanakan penanaman bibit padi disawah dan ini salah satu tugas Babinsa diwilayah.

Upaya Khusus dalam mewujutkan Swasembada Pangan di Kabupaten Nias Selatan kita mendorong petani agar lebih semangat lagi dalam bekerja karena ini sudah menjadi program pemerintah, selain itu Babinsa dan PPL Kecamatan Ulususua selalu bersama dalam memberikan penyuluhan mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, pembibitan, pemeliharaan, penanggulangan Hama sampai dengan panen.

PPL Anandrowa Dodo Laia saat ditanyakan media menyampaikan bersama Babinsa kami selalu ada ditengah tengah petani, petani kita sudah tidak asing lagi bila melihat Babinsa ikut kesawah seperti saat penanaman padi sekarang ini. Petani kita saat ini semakin semangat saja bekerja apa lagi bila ada Babinsa disela sela menanam padi selalu bertanya pengalaman pengalaman tugas Babinsa sambil ketawa dengan gembira. (doeha)
Iklan-Devis

KPUD Nisel Pegang Teguh Regulasi dalan Proses Pendaftaran PPK, Mendaftar Seribu Lebih

    1/24/2020   No comments
MOKI, Nias Selatan-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Nias Selatan (Nisel) memastikan proses penjaringan atau penerimaan calon panitia pemilihan kecamatan (PPK) jauh dari praktik kecurangan. Sebab, dalam proses tersebut terdapat regulasi jelas. Hal tersebut dikatakan langsung Komisioner KPUD Nisel Koordinator Devisi Parmas dan SDM, Yulianus Gulo, SE didampingi Sub Bagian Umum SDM Sekretariat KPUD Nisel Par'eman Halawa saat dimintai tanggapannya di Kantor KPUD Nisel Jalan Pelita-Pasir Putih, No.10, Kelurahan Pasar Telukdalam Kabupaten Nisel Propinsi Sumatera Utara, Jumat (24/01/2020).

Komisioner KPUD Nisel Koordinator Devisi Parmas dan SDM, Yulianus Gulo, SE menjelaskan bahwa pengumuman penerimaan PPK  itu berdasarkan surat pengumuman KPUD Nisel Nomor: 39/PP.04.2-Pu/1214/KPU-Kab/1/2020, tertanggal 15 Januari 2020, tentang, seleksi Calon Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan Tahun 2020, terang Gulo

Sejak dibukanya pendaftaran dimulai tanggal 18 Januari sampai dengan tanggal 24 Januari 2020 di Kantor KPUD Nisel. Pendaftaran mulai pukul 08.00 WIB s/d pukul 16.00 WIB, jumlah pendaftar membludak. Tercatat, pada Jumat (24/01/2020) jumlah pelamar calon PPK berjumlah 1.202 orang, beber Gulo

Selanjutnya, bahwa sebelumnya jumlah itu diprediksi bakal terus bertambah, mengingat animo masyarakat untuk mendaftar sangat tinggi hingga tanggal 24 Januari 2020 terakhir. Apabila lolos verifikasi administrasi, ditambahkan Gulo seluruh peserta bakal ikuti tes tertulis.

“Seluruh administrasi pendaftaran yang masuk bakal diseleksi. Kita umumkan kembali pelamar yang lolos verifikasi administrasi untuk ikuti tes tertulis. Selanjutnya kita minta tanggapan masyarakat terhadap peserta yang lolos tes tertulis,” ungkapnya,

Setelah lolos tes tertulis dan tanggapan dari masyarakat tidak ada yang negatif, peserta masih ikuti tes wawancara. Dari sekian banyak peserta, hanya 175 orang yang dibutuhkan untuk duduki jabatan sebagai anggota PPK. Dimana 175 anggota PPK dari 35 kecamatan yang ada diwilayah Nisel, artinya dalam satu kecamatan, akan ada lima anggota PPK. Adapun jumlah pelamar saat ini sebanyak 1.202 orang dengan perincian Laki Laki = 1.019 orang dan Perempuan = 183 orang, ujar Gulo

Ia mengharapkan kepada seluruh masyarakat pemangku kepentingan, media cetak, online, medsos untuk memberikan masukan agar dapat terpilih para pelamar PPK yang bersih dan mempunyai integritas  untuk terpanggil menjadi penyelenggara sesuai per UU yang berlaku, Gulo menegaskan dalam proses penerimaan calon PPK terdapat regulasi jelas.

"Untuk menjaga integritas dan independensi dari calon PPK, kami juga mengharapkan masukan dari semua pihak," tandas Gulo. (doeha)
Iklan-Devis

Penurunan Angka Kemiskinan, Stunting, Kematian Ibu Dan Bayi Serta HIV/AIDS Jadi Program Prioritas Pemkab Pati

    1/24/2020   No comments
MOKI, PATI-Setidaknya ada empat program yang menjadi fokus pemerintah daerah hingga pemerintah pusat di bidang kesehatan, yakni penurunan angka kemiskinan, stunting, angka kematian ibu dan bayi, serta HIV/AIDS.

Hal tersebut diungkapkan Bupati Pati Haryanto dalam rapat koordinasi di bidang kesehatan di ruang Pragolo Setda Pati, hari ini.

"Program - program yang menjadi prioritas tersebut harus dapat kita selesaikan. Karena ini sudah menjadi program nasional dan telah ada MoU Kementrian Kesehatan, sehingga kita harapkan dapat terselesaikan secara tuntas,"jelasnya.

Sedangkan daerah - daerah yang menjadi target dalam penuntasan program prioitas tersebut, lanjut Haryanto, diharapkan dapat menciptakan program - program yang nyata di masyarakat.

"Kemudian untuk desa, tidak hanya fokus pada fisik maupun infrastruktur saja, melainkan juga harus dapat mengarah pada pemberdayaan,"harap Bupati.

Menyinggung masalah HIV / AIDS, Haryanto mengimbau agar memberdayakan Komite Kesehatan yang ada di tiap kecamatan yang dalam pelaksanaannya melibatkan segala unsur yang ada.

"Diharapkan itu (Komite Kesehatan-red) dapat berjalan. Terlebih bahwa kepala Puskesmas saat ini memiliki kewenangan BLU sehingga dapat mengatur sendiri,"imbuhnya.

Sedangkan untuk Angka Kematian Ibu (AKI), menurut Haryanto,  Kabupaten Pati dalam penanganan masalah tersebut sudah baik. Yaitu dari tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019 selalu mengalami penurunan.

"Mulai dari angkanya kasusnya sebanyak 23 turun menjadi 19, turun lagi menjadi 15 dan kemarin di angka 8,"terang Bupati.

Adapun mengenai program penurunan angka stunting, Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB), ia menegaskan perlunya kerjasama dengan pihak terkait, mulai dari Bappeda, Dispermades, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga pemerintah desa. (Red)
Iklan-Devis
© 2008 MOKI I Kabar-Investigasi.com. Designed by : Kang Aris
Powered by KabarInvestigasi.